Keputusan Trump memecat Comey mengundang kontroversi karena dilakukan di saat FBI tengah menyelidiki apakah tim kampanye kepresidenan Trump berkolusi dengan Rusia untuk mempengaruhi pemilihan presiden AS pada November 2016 lalu agar menguntungkan Partai Republik.
"Demokrat telah mengatakan sejumlah hal terburuk mengenai James Comey, termasuk fakta bahwa dia harus dipecat, namun sekarang mereka berpura-pura sangat sedih," demikian cuitan Trump di akun Twitternya seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (11/5/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Presiden Trump menekankan bahwa cara Comey menangani penyelidikan kasus email Clinton dan kemungkinan campur tangan Rusia dalam pilpres AS, telah menjustifikasi keputusannya untuk memecat Comey. Namun para politikus Demokrat mempertanyakan mengapa pemecatan itu dilakukan mendadak. Terlebih di saat Comey memimpin penyelidikan apakah tim kampanye Trump berkolusi dengan Rusia, sebuah pelanggaran serius.
Para anggota parlemen dari Demokrat menyerukan adanya penyelidikan independen dan penuntut khusus untuk menyelidiki dugaan campur tangan Rusia dalam pilpres AS tersebut.
Sebelumnya dalam laporannya pada Januari lalu, seperti dilansir Reuters, FBI menyimpulkan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan upaya khusus untuk 'mengganggu' pilpres AS tahun 2016 lalu. Upaya khusus Rusia itu, disebut FBI, bertujuan untuk membantu Trump memenangkan pilpres.
Laporan terbaru dari CNN pada Selasa (9/5) malam menyebut, jaksa federal AS telah merilis 'grand jury subpoena' atau surat pemanggilan untuk mantan penasihat keamanan nasional Trump, Michael Flynn. Jaksa federal AS ingin memeriksa rekam jejak bisnis Flynn yang dicurigai terlibat dalam intervensi Rusia dalam pilpres.
Semasa kampanye, Flynn diketahui pernah berkomunikasi dengan Duta Besar Rusia untuk AS, Sergei Kislyak. Sebelum akhirnya mengaku, Flynn sempat berbohong soal komunikasi dengan Kislyak itu kepada Wakil Presiden Mike Pence. Flynn pun mengundurkan diri, namun kemudian terungkap bahwa sebenarnya Trump yang lebih dulu memecatnya.
Rusia berulang kali menyangkal telah mengintervensi pilpres AS. Pemerintahan Trump juga menyangkal adanya kolusi dengan Rusia.
Pemecatan Comey ini menjadi kontroversi karena dilakukan sehari setelah mantan pelaksana tugas Jaksa Agung AS Sally Yates menuturkan kepada Senat AS bahwa dirinya sudah memperingatkan Gedung Putih pada 26 Januari bahwa Flynn berisiko diperas oleh Rusia. Namun Gedung Putih mengabaikan peringatan itu. (ita/ita)










































