Moon (64) resmi dilantik di Gedung Parlemen Korsel pada Rabu (10/5) siang setempat. Upacara pelantikannya berlangsung sederhana dan setelah itu, dia langsung bergerak ke Blue House, istana kepresidenan megah yang berada di distrik Jongno, Seoul.
Seperti dilansir Reuters, Rabu (10/5/2017), Moon yang mantan pengacara HAM ini berjanji akan membangun masyarakat yang adil dan setara. Dia bersumpah akan mengakhiri 'budaya kepresidenan otoriter', citra yang melekat pada pendahulunya, Park Geun-Hye.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Moon Jae-In: Saya Akan Jadi Presiden Seluruh Rakyat Korsel
Gwanghwamun yang ada di pusat kota Seoul merupakan pusat historis dan alun-alun utama yang kerap menjadi lokasi peristiwa besar. Tahun lalu, unjuk rasa besar-besaran memprotes Park Geun-Hye digelar secara rutin, setiap akhir pekan, selama beberapa minggu di lokasi itu. Gwanghwamun pun memegang peranan penting bagi Moon dan para pendukungnya.
Gwanghwamun dikelilingi oleh lima istana dari zaman kerajaan Korsel. Kawasan itu juga menjadi lokasi berbagai perusahaan besar, institusi keuangan, kantor kedutaan asing, hotel mewah dan gedung konser ternama.
Di salah satu sudut jalan dekat Alun-alun Gwanghwamun yang memiliki panjang 740 meter itu, terdapat Kompleks Gedung Pemerintahan Korsel. Kompleks itu terdiri atas tiga gedung bertingkat dan beberapa kantor pemerintahan, termasuk Kementerian Unifikasi, Kementerian Luar Negeri dan kemungkinan nantinya akan menjadi lokasi Istana Kepresidenan Korsel yang baru.
Dalam pernyataan sebelumnya, Moon pernah menyebut kompleks itu akan menjadi kantornya jika menjabat Presiden Korsel. Namun diketahui bahwa gedung-gedung bertingkat di kompleks itu, termasuk gedung terbesar, tergolong gedung tua yang dibangun sejak tahun 1970-an.
Baca juga: Resmi Dilantik, Presiden Korsel yang Baru Ingin Kunjungi Korut
Tentunya dibutuhkan renovasi besar-besaran dan pemasangan perangkat keamanan canggih untuk memenuhi standar sebagai Istana Kepresidenan. "Ini akan membuat pusing. Keamanan harus ditingkatkan, sangat banyak ditingkatkan. Ini tidak realistis," ucap salah satu sumber yang memahami gedung di kompleks itu.
Rencana Moon untuk memindahkan kantor kepresidenan menjadi mimpi buruk keamanan. Gedung 19 lantai di Kompleks Gedung Pemerintahan Korsel itu hanya memiliki standar keamanan dengan kartu, jauh dari pengamanan super canggih di Blue House yang dijaga ketat.
Blue House terletak di kaki gunung kecil dengan halaman yang sangat luas. Barikade dan pos keamanan tersebar di sekitarnya. Bahkan terdapat juga sebuah bungker bawah tanah berukuran besar, yang dirancang anti-tembakan artileri. Tahun lalu bungker di Blue House dipasangi sistem informasi kelas paling canggih atau 'state of the art'.
Rencana pemindahan kantor kepresidenan ini juga akan memicu kepadatan lalu lintas baru. Sekitar 77 ribu orang menggunakan kereta bawah tanah per hari, yang stasiunnya terletak hanya 3 menit dari kompleks itu. Kaca jendela di gedung itu juga tidak antipeluru.
"Gedung ini akan memerlukan penguatan. Dibutuhkan anggaran cukup banyak, untuk perlengkapan seperti kaca antipeluru," ucap Song Sang-Rak selaku Kepala Kantor Manajemen Gedung Pemerintahan pada Kementerian Dalam Negeri. Song menyebut, Moon berharap dirinya bisa berkantor di kompleks itu paling cepat tahun 2019.
(nvc/nwk)










































