Seperti dilansir CNN, Selasa (9/5/2017), kecaman dan seruan ini disampaikan Erdogan saat berbicara dalam Forum Internasional Al-Quds Waqfs, yang digelar untuk memperjuangkan pembangunan ekonomi Palestina. Konferensi itu digelar di kota Istanbul, Turki pada Senin (8/5) waktu setempat.
Dalam forum itu, Erdogan menyebut, 26 ribu warga Turki berkunjung ke Yerusalem sepanjang tahun 2016. Jumlah itu disebut oleh kantor berita Anadolu sebagai jumlah tertinggi di antara negara-negara mayoritas muslim. Erdogan menyerukan agar 'ratusan ribu' muslim lainnya berkunjung ke Yerusalem.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Erdogan menyebut kunjungan muslim ke Yerusalem itu sebagai 'dukungan terbesar untuk saudara-saudara di sana'. Erdogan juga menegaskan bahwa Yerusalem merupakan kota suci bagi warga muslim, Yahudi dan Kristen.
"Baik dalam agama maupun tanggung jawab historis, Al-Quds dan perjuangan saudara Palestina kita untuk hak dan keadilan menjadi hal yang sangat penting bagi kita. Kita akan terus berupaya menjadikan Al-Quds sebagai kota perdamaian," tegas Erdogan.
Lebih lanjut, Erdogan mengkritik kebijakan Israel terhadap warga Palestina dengan menyebutnya rasis dan diskriminatif. Erdogan juga menyebut bahwa perdamaian abadi di Timur Tengah tidak akan terwujud tanpa solusi bagi isu-isu Palestina.
"Ini satu-satunya solusi: pembentukan negara Palestina yang merdeka dan berdaulat penuh, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota di sepanjang garis (perbatasan) tahun 1967," ucap Erdogan seperti dikutip kantor berita Anadolu.
Atas komentar Erdogan tersebut, pemerintah Israel berargumen, blokade Gaza perlu dilakukan untuk mencegah penyaluran senjata bagi gerakan Hamas yang menguasai wilayah itu. Kementerian Luar Negeri Israel bahkan merilis komentar keras menanggapi kecaman Erdogan itu. Israel pun menyebut Erdogan sebagai 'pelanggar HAM'.
"Siapa saja yang secara sistematis melanggar HAM di negara mereka sendiri, tidak seharusnya berceramah soal moralitas terhadap satu-satunya demokrasi sejati di kawasan. Israel secara konsisten melindungi kebebasan beribadah bagi warga Yahudi, muslim dan Kristen -- dan akan terus melanjutkan hal itu meskipun muncul fitnah tak berdasar," demikian pernyataan juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel, Emmanuel Nahshon.
(nvc/ita)











































