12 Orang Luka-Luka dalam Serangan Air Keras di Kelab Malam London

12 Orang Luka-Luka dalam Serangan Air Keras di Kelab Malam London

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 17 Apr 2017 18:57 WIB
12 Orang Luka-Luka dalam Serangan Air Keras di Kelab Malam London
Pemadam kebakaran London (AFP Photo/Joshua ROBERTS)
London - Sedikitnya 12 orang luka-luka akibat serangan cairan asam atau air keras di kelab malam London, Inggris. Serangan terjadi saat kelab malam itu dipenuhi pengunjung.

Otoritas setempat menyebut insiden ini terjadi di tengah meningkatnya angka serangan air keras di ibu kota Inggris itu. Juru bicara Brigade Pemadam Kebakaran London menuturkan kepada AFP, Senin (17/4/2017), bahwa 'zat korosif yang tak teridentifikasi' disiramkan ke arah para pengunjung kelab malam Mangle, London bagian timur pada Senin (17/4) dini hari waktu setempat.

Zat korosif itu kemudian disebut sebagai 'zat yang bersifat asam' dalam pemeriksaan yang dilakukan otoritas setempat. Dituturkan juru bicara Brigade Pemadam Kebakaran, saat kejadian terdapat sekitar 600 orang di dalam kelab malam itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sebanyak 12 orang yang menunjukkan tanda-tanda dan gejala terpapar zat korosif ditangani di lokasi kejadian oleh ambulans dan personel pemadam kebakaran sebelum dibawa ke rumah sakit," jelasnya.

Kepolisian setempat menyatakan luka-luka yang diderita para korban 'tidak membahayakan nyawa mereka'. Kepolisian London meyakini insiden ini tidak terkait dengan terorisme.

Sejauh ini belum ada satupun tersangka yang ditangkap terkait insiden ini.

Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah serangan air keras mengalami peningkatan tajam di London. Data kepolisian yang dikutip BBC melaporkan ada lebih dari 1.800 serangan semacam ini sejak tahun 2010.

Untuk tahun 2016, air keras digunakan dalam setidaknya 454 tindak kejahatan. Jumlah itu naik drastis jika dibandingkan tahun 2015 yang hanya mencapai 261 kasus. Beberapa pengamat menyebut, geng-geng kriminal setempat mengalihkan serangan dari serangan pisau ke cairan air keras untuk mengurangi risiko diadili.

(nvc/ita)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini