"Sulit untuk membayangkan ada orang yang bisa bertahan hidup di bawah kondisi beracun," kata seorang perwira polisi di lokasi seperti dilansir AFP, Senin (17/4/2017), dini hari.
Mereka mencari korban di tengah timbunan sampah setinggi 90 meter yang rubuh pada Jumat (14/4) lalu itu yang juga menghancurkan sekitar 145 rumah semipermanen di lokasi tersebut. Ada enam orang yang dilaporkan hilang pada peristiwa yang terjadi di kota Kolonnawa yang berada di sebelah timur laut ibu kota itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Misi penyelamatan ini akan dilanjutkan pada hari ini. Meski tidak ada data pasti jumlah orang yang tertimbun, petugas akan terus mencari korban.
"Kendala utama kita adalah tidak memiliki informasi jelas tentang berapa banyak orang yang terkubur. Dan tidak ada orang yang mengklaim bahwa keluarga mereka yang hilang, tidak seperti pada kesempatan sebelumnya," kata Ranasinghe.
"Kami tidak memiliki batas waktu apapun. Dan kami akan terus mencari sampai beres," sambungnya.
Polisi sendiri masih menyelidiki penyebab longsor ini. Seorang korban yang selamat mengaku mendengar suara yang sangat besar sebelum peristiwa longsor ini terjadi.
"Kami mendengar suara besar. Itu seperti guntur. Ubin di rumah kami retak. Dan air berwarna hitam mulai datang. Kami mencoba untuk keluar tapi kami tertimbun. Kami berteriak minta tolong dan kemudian berhasil diselamatkan," kata korban selamat bernama Kularathna. (jbr/rvk)











































