Hal ini disampaikan seorang pilot Angkatan Udara Irak seperti dikutip kantor berita Turki, Anadolu Agency, Kamis (13/4/2017).
Menurut pilot Irak bernama Yazan al-Duberdani tersebut, serangan udara tersebut menargetkan beberapa rumah warga sipil di kawasan permukiman al-Yarmouk, di Mosul, yang belum lama ini berhasil direbut kembali dari kelompok radikal ISIS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Serangan udara ini terjadi hanya sehari setelah tiga anggota dari satu keluarga Irak tewas dalam serangan udara AS di kota Mosul.
Sejauh ini belum ada komentar dari militer AS mengenai serangan udara tersebut. AS dan negara-negara sekutunya telah melancarkan serangan udara di Irak sejak Juni 2014 lalu. Serangan udara yang dimaksudkan untuk memberantas kelompok radikal ISIS itu, pada beberapa kesempatan telah merenggut nyawa banyak warga sipil dan menimbulkan kerusakan pada infrastruktur di negara tersebut.
Sebelumnya pada bulan Maret lalu, organisasi HAM Amnesty International menyatakan keprihatinan atas jumlah korban warga sipil di Mosul. Disebutkan bahwa koalisi Amerika Serikat mungkin tak berbuat banyak untuk mencegah jatuhnya korban warga sipil.
Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga menyampaikan keprihatinan besar atas meningkatnya korban warga sipil di kota tersebut. PBB pun menyerukan semua pihak yang terlibat dalam operasi antiteror di negeri agar mencegah "penggunaan senjata secara sembarangan." (ita/ita)











































