PBB akan Voting Soal Serangan Kimia Suriah, Rusia Diduga Memveto

PBB akan Voting Soal Serangan Kimia Suriah, Rusia Diduga Memveto

Rita Uli Hutapea - detikNews
Rabu, 12 Apr 2017 14:59 WIB
PBB akan Voting Soal Serangan Kimia Suriah, Rusia Diduga Memveto
pria Suriah memeluk bayi kembarnya yang tewas dalam serangan kimia (Foto: Courtesy Alaa al-Yousef/CNN)
New York - Dewan Keamanan PBB akan menggelar voting soal resolusi yang menuntut pemerintah Suriah bekerja sama dalam penyelidikan dugaan serangan senjata kimia di provinsi Idlib, Suriah. Namun para diplomat mengatakan, Rusia kemungkinan akan memveto resolusi tersebut.

Inggris, Prancis dan Amerika Serikat mengajukan draf resolusi tersebut sebagai respons atas dugaan serangan kimia di kota Khan Sheikhun yang dikuasai pemberontak Suriah.

Sidang voting tersebut dijadwalkan digelar pada Rabu (12/4) pukul 15.00 waktu setempat. Menurut para diplomat seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (11/4/2017), Rusia diperkirakan akan menggunakan hak vetonya untuk menggagalkan resolusi tersebut. Jika benar demikian, maka ini akan menjadi yang kedelapan kalinya Moskow menggunakan hak vetonya di DK PBB untuk menghalangi tindakan-tindakan terhadap sekutunya, Suriah.

Dalam draf resolusi itu disampaikan mengenai kengerian atas laporan penggunaan senjata kimia di Khan Sheikhun dan mengutuk peristiwa yang terjadi pada 4 April tersebut. Dalam draf disebutkan mengenai dukungan penuh DK PBB bagi para penyelidik dari Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) dan panel investigasi gabungan PBB-OPCW yang ditugaskan untuk memastikan siapa yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.

DK PBB juga meminta pemerintah Suriah untuk memberikan rencana penerbangan, data penerbangan dan informasi lain mengenai operasi militernya pada 4 April, serta menyerahkan nama-nama komandan setiap pesawat dan memberikan akses para penyelidik PBB ke pangkalan-pangkalan udara.

Pemerintah AS dan negara-negara Barat menuding rezim Assad memerintahkan serangan kimia di Khan Sheikhun yang menewaskan setidaknya 87 orang, termasuk 31 anak-anak. Tuduhan itu dibantah oleh pemerintah Suriah.

Pada Selasa (10/4), Presiden Rusia Vladimir Putin menyerukan penyelidikan menyeluruh oleh OPCW dan menyebutkan bahwa Assad telah menjadi target tuduhan palsu.

(ita/ita)


Berita Terkait