"Saya terus terusik atas apa yang terjadi di penerbangan ini, dan saya sangat meminta maaf kepada pelanggan yang diusir paksa dan kepada semua pelanggan di dalam pesawat," ujar CEO United Airlines Oscar Munoz dalam statemen seperti dilansir Press TV, Rabu (12/4/2017).
"Saya ingin Anda tahu bahwa kami mengambil tanggung jawab penuh dan kami akan bekerja untuk memperbaikinya. Tak ada seorang pun yang bisa diperlakukan seperti ini," imbuhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Maskapai Amerika Serikat tersebut menuai banyak kecaman sejak beredarnya video pada Minggu (9/4) yang memperlihatkan seorang pria dipaksa turun dari pesawat di Bandara O'Hare, Chicago, AS.
Tampak dalam video, pria berusia 69 tahun yang diidentifikasi sebagai Dr. David Dao tersebut, ditarik paksa dari kursinya oleh petugas keamanan bandara dan diseret di lantai. Saat itu para penumpang yang lain menatap dengan ngeri sambil ikut berteriak ketakutan.
Setelah ramai di medsos, pihak United Airlines memberikan penjelasan atas insiden itu. Disebutkan bahwa penerbangan tersebut kelebihan penumpang karena United harus menerbangkan empat stafnya sehingga harus ada empat penumpang yang dikorbankan untuk turun pesawat. Awalnya, United menawarkan, jika ada empat orang yang mau turun secara sukarela, maka akan diberi kompensasi uang berikut penginapan di hotel.
Namun tidak ada yang mau, sehingga empat orang tersebut dipilih secara random. Salah satu penumpang yang terpilih, Dr. David Dao tetap menolak turun dengan alasan dia adalah seorang dokter dan perlu merawat pasien di tempat tujuan. Pihak maskapai lalu memanggil petugas keamanan bandara dan dokter tersebut diturunkan secara paksa, bahkan sampai terluka dengan wajah berdarah-darah.
CEO United Airlines telah meminta maaf atas insiden itu namun dia juga membela tindakan stafnya. Permintaan maaf yang dianggap setengah hati itu, malah membuat para netizen semakin berang, bahkan banyak yang menyerukan aksi boikot maskapai penerbangan tersebut.
(ita/ita)











































