"Melihat orang-orang yang digas dan terlempar akibat bom-bom barel tersebut memastikan bahwa jika kami melihat tindakan seperti ini lagi, kami membuka kemungkinan adanya tindakan di masa mendatang," ujar juru bicara Gedung Putih Sean Spicer kepada para wartawan seperti dilansir media Press TV, Selasa (11/4/2017).
Sebelumnya, Duta Besar AS untuk PBB Nikki Haley telah mengatakan, negaranya siap untuk menyerang Suriah lagi jika memang diperlukan. Pada Minggu, 9 April lallu, Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson pun mengingatkan bahwa AS bisa kembali menyerang Suriah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut media nasional Suriah, SANA, serangan rudal AS menewaskan 9 warga sipil, terdapat sedikitnya empat anak-anak. Namun menurut organisasi pemantau konflik Suriah, Syrian Observatory for Human Rights, empat tentara Suriah termasuk seorang perwira senior tewas dalam serangan AS itu. Perwira senior yang tewas dilaporkan berpangkat jenderal, namun identitasnya belum diketahui pasti.
Serangan rudal AS tersebut diperintahkan oleh Presiden Donald Trump menyusul gas beracun di kota Khan Shaykhun, provinsi Idlib, Suriah pada Selasa (4/4) yang menewaskan setidaknya 86 orang, termasuk puluhan anak-anak. Pemerintah AS dan negara-negara Barat lainnya menuduh rezim Presiden Assad sebagai dalang serangan kimia tersebut. Namun Suriah dan sekutu utamanya, Rusia membantah keras tuduhan tersebut. (ita/ita)











































