Seperti dilansir Reuters, Senin (10/4/2017), kepolisian menyebut benda seperti bom itu diledakkan secara terkendali pada Sabtu (8/4) malam waktu setempat. Tim penjinak bom dari kepolisian setempat menyebut bom yang ditemukan di Oslo itu berukuran sekitar 30 cm.
Jika meledak, bom itu mampu memicu kerusakan terbatas jika meledak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dituturkan pengacara warga Rusia itu, Aase Karine Sigmond, kliennya menyangkal terlibat dalam temuan bom itu. Sigmond juga membantah bahwa kliennya adalah simpatisan kelompok radikal Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).
"Itu adalah lelucon anak-anak," tuturnya kepada NRK, seperti dilansir AFP.
Dampak dari temuan bom ini, Kepala Dinas Keamanan Kepolisian (PST), Benedicte Bjoernland, menyatakan level ancaman untuk Norwegia dinaikkan dari 'mungkin' atau 'possible' menjadi 'dapat terjadi' atau 'probable'. Level ancaman baru ini akan diberlakukan selama dua bulan ke depan.
Tidak diketahui secara jelas, apakah warga Rusia itu berniat melakukan serangan teror atau tidak. Otoritas Norwegia masih mencari tahu apakah warga Rusia itu bertindak seorang diri atau merupakan bagian dari jaringan yang lebih besar.
"Tapi kemungkinan besar serangan yang terjadi sepanjang tahun lalu, di Prancis, Jerman, Inggris, Rusia dan Swedia memiliki efek menular di Norwegia, mempengaruhi orang-orang yang simpatik dengan Islamis ekstrem," ucap Bjoernland.
(nvc/ita)











































