Serangan rudal AS itu dilakukan pada Jumat (7/4/2017) subuh waktu setempat. Rudal-rudal Tomahawk dilepas dari dua kapal perang AS: USS Ross dan USS Porter yang berada di laut Mediterania sisi timur.
Foto: Reuters |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Reuters |
Mereka yang mengecam atau prihatin terhadap serangan ini mayoritas melihat fakta bahwa serangan AS ini tidak melalui persetujuan Dewan Keamanan PBB dan kekhawatiran mengenai eskalasi konflik di Suriah yang bisa meluas. Mereka berpendapat cara-cara diplomasi masih bisa dilakukan. Bahkan di dalam negeri, serangan ini dilakukan tidak melalui persetujuan kongres.
Begitu juga dengan Indonesia yang menyatakan prihatin terhadap serangan ini. Jubir Kemlu Arrmanatha Nasir menyatakan perdamaian dan stabilitas di Suriah hanya bisa dilakukan dengan dialog dan proses politik yang terbuka dengan tidak menafikan kepentingan satu pihak pun. Pria yang akrab disapa Tata ini menegaskan Indonesia tidak berada di 'kubu' negara yang mendukung maupun negara yang mengutuk serangan tersebut.
Baca Juga: Indonesia Desak PBB untuk Selesaikan Konflik Suriah
Sedangkan mereka yang mendukung menganggap aksi serangan ini sebagai cara nyata untuk mengakhiri situasi tak menentu di Suriah. Apalagi situasi di negeri itu diperburuk dengan serangan gas sarin yang mengundang kecaman dari masyarakat internasional.
Foto: Reuters |
1. Mendukung/bisa memahami:
Inggris
Albania
Australia
Bahrain
Kanada
Denmark
Estonia
Prancis
Georgia
Jerman
Israel
Italia
Jepang
Yordania
Kosovo
Kuwait
Spanyol
Latvia
Lithuania
New Zealand
Norwegia
Polandia
Qatar
Romania
Arab Saudi
Turki
Ukraina
Polandia
Uni Emirat Arab
Belanda
Luksemburg
NATO
2. Netral/Tak bersikap jelas:
Yunani
Swedia
3. Kontra/prihatin/menyayangkan:
Suriah
Rusia
Iran
China
Korea Utara
Belarus
Brasil
Bolivia
Venezuela
Indonesia (prihatin) (fjp/imk)












































Foto: Reuters
Foto: Reuters
Foto: Reuters