"Kami sudah tahu mengenai ancaman dan serangan militer Amerika ke wilayah Suriah tersebut," ujar pejabat militer Suriah seperti dikutip kantor berita AFP, Sabtu (8/4/2017).
"Kami mengambil tindakan pencegahan di lebih dari satu titik militer, termasuk di pangkalan udara Shayrat. Kami memindahkan sejumlah pesawat ke wilayah-wilayah lain," kata pejabat militer yang tak ingin disebut namanya itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada Jumat (7/4) dini hari waktu Suriah, militer AS menembakkan 59 rudal Tomahawk dari dua kapal perang AS, USS Porter dan USS Ross, yang siaga di Laut Mediterania bagian timur. Rudal-rudal itu ditembakkan secara terarah pada pesawat tempur, landasan udara dan pusat pengisian bahan bakar di pangkalan udara Shayrat, dekat kota Homs. Ini merupakan pertama kalinya AS melancarkan aksi militer langsung terhadap pasukan Presiden Bashar al-Assad sejak konflik pecah di negeri itu pada tahun 2011.
Pejabat-pejabat AS mengatakan, militer Rusia di Suriah telah lebih dulu diberitahu mengenai serangan rudal itu. Tujuannya untuk menghindari jatuhnya korban yang bisa memicu krisis yang lebih luas. Pemerintah Rusia pun mengkonfirmasi bahwa pihaknya telah diberitahu oleh AS sebelum serangan rudal terjadi. Namun Moskow menolak menyebutkan apakah ada tentara Rusia yang harus dievakuasi dari pangkalan udara Shayrat.
Sementara itu, sumber militer Suriah mengatakan, akibat serangan rudal AS ke pangkalan udara Shayrat, sembilan pesawat militer Suriah rusak, termasuk beberapa yang benar-benar hancur.
Menurut media nasional Suriah, SANA, serangan rudal AS menewaskan 9 warga sipil, terdapat sedikitnya empat anak-anak. Namun menurut organisasi pemantau konflik Suriah, Syrian Observatory for Human Rights, empat tentara Suriah termasuk seorang perwira senior tewas dalam serangan AS itu. Perwira senior yang tewas dilaporkan berpangkat jenderal, namun identitasnya belum diketahui pasti. (ita/ita)











































