Menurut pejabat-pejabat Departemen Pertahanan AS atau Pentagon, pasukan Suriah kemungkinan dibantu oleh sekutu utamanya, Rusia dalam melancarkan serangan kimia tersebut. Atau setidaknya, Rusia tidak berupaya mencegah tindakan rezim Suriah.
"Kami sedang menilai dengan hati-hati setiap informasi yang akan menunjukkan bahwa Rusia tahu atau membantu Suriah dengan kemampuan ini," ujar seorang pejabat militer senior AS kepada para wartawan di Pentagon seperti dilansir kantor berita Reuters, Sabtu (8/4/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintah AS dan negara-negara Barat menuding rezim Presiden Bashar al-Assad sebagai dalang serangan tersebut. Pemerintahan Assad membantah keras tudingan itu dan menyatakan bahwa seluruh simpanan senjata kimianya telah diserahkan sesuai kesepakatan yang dinegosiasikan bersama AS dan Rusia pada tahun 2013.
Disebutkan Pentagon, Rusia memiliki unit aviasi di pangkalan udara Shayrat, tempat yang menurut AS merupakan asal serangan kimia di Khan Shaykhun yang dikuasai pemberontak Suriah.
Dalam serangannya pada Jumat (7/4) dini hari waktu Suriah, AS menembakkan 59 rudal Tomahawk dari dua kapal perang AS, USS Porter dan USS Ross, yang siaga di Laut Mediterania bagian timur. Rudal-rudal itu ditembakkan secara terarah pada pesawat tempur, landasan udara dan pusat pengisian bahan bakar di pangkalan udara Shayrat, dekat kota Homs. (ita/ita)











































