Anggota Kongres AS: Serangan ke Suriah Itu Tindakan Perang

Anggota Kongres AS: Serangan ke Suriah Itu Tindakan Perang

Dhani Irawan - detikNews
Jumat, 07 Apr 2017 11:21 WIB
Anggota Kongres AS: Serangan ke Suriah Itu Tindakan Perang
Foto: Reuters
Washington DC - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memerintahkan serangan rudal ke sebuah pangkalan udara Suriah usai serangan kimia yang memakan puluhan korban jiwa. Hal itu mengundang berbagai reaksi dari para anggota parlemen.

Dilansir news.com.au, Jumat (7/4/2017), seorang anggota Kongres dari Partai Republik Demokratik Barbara Lee menyebut perintah Trump itu adalah 'tindakan perang'.

"Ini adalah tindakan perang. Kongres perlu menggelar sesi dan melakukan perdebatan. Apa pun yang kurang adalah pengabaian atas tanggung jawab kita," cuit Lee melalui akun Twitternya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Adapun Senator Republik, Rand Paul menekankan bahwa Trump membutuhkan persetujuan Kongres untuk aksi militer.

Namun Senator Demokrat, Dick Durbin, menyebut tindakan Trump sebagai 'respons yang terukur terhadap kekejaman serangan gas Suriah'.

"Tindakan lebih lanjut akan membutuhkan pengawasan oleh Kongres, dan eskalasi apa pun di luar serangan udara atau serangan rudal harus melibatkan rakyat Amerika dalam keputusan tersebut," ucap Durbin menambahkan.

Sebelumnya Trump mengumumkan langkah tersebut dengan alasan membela kepentingan keamanan nasional melawan Presiden Suriah Bashar al-Assad. Langkah ini tergolong langkah paling keras AS sepanjang 6 tahun konflik Suriah.

Di sisi lain, langkah ini berpotensi memicu konfrontasi dengan Rusia dan Iran, sekutu dekat Assad.

Dituturkan sejumlah pejabat AS yang enggan disebut namanya, sekitar 50 rudal Tomahawk ditembakkan dari sejumlah kapal perang Angkatan Laut AS, seperti USS Porter dan USS Ross, yang siaga di Laut Mediterania.

Rudal-rudal itu mengenai sejumlah target, termasuk landasan udara, pesawat tempur dan pusat pengisian bahan bakar yang ada di Pangkalan Udara Shayrat di Suriah. Kerusakan yang dipicu dari serangan AS ini belum diketahui pasti.


(dhn/ita)


Berita Terkait