Soal Serangan Kimia Suriah, Trump: Sikap Saya Berubah terhadap Assad

Soal Serangan Kimia Suriah, Trump: Sikap Saya Berubah terhadap Assad

Rita Uli Hutapea - detikNews
Kamis, 06 Apr 2017 13:59 WIB
Soal Serangan Kimia Suriah, Trump: Sikap Saya Berubah terhadap Assad
korban serangan kimia di Suriah (Foto: Reuters)
Washington - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut Presiden Suriah Bashar al-Assad telah melampaui 'garis merah' dengan melancarkan serangan gas beracun terhadap warga sipil. Ditegaskan Trump, sikapnya terhadap Suriah dan Presiden Bashar al-Assad kini berubah. Namun Trump tidak menjelaskan bagaimana dia akan merespons.

Dikatakan Trump, serangan kimia di kota Khan Sheikhun yang menewaskan setidaknya 70 orang tersebut telah "melewati banyak garis", kata kiasan yang pernah diucapkan mantan presiden Barack Obama saat mengancam akan menggulingkan Presiden Assad jika dia menggunakan senjata kimia.


"Saya katakan pada Anda, apa yang terjadi kemarin tak bisa diterima bagi saya," kata Trump kepada para wartawan seperti dilansir kantor berita Reuters, Kamis (6/4/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dan saya ingin katakan pada Anda, saat ini sikap saya terhadap Suriah dan Assad telah sangat berubah," imbuhnya. Namun ketika ditanya apakah dia tengah menyusun kebijakan baru mengenai Suriah, Trump menjawab: "Anda akan lihat nanti."

Komentar Trump tersebut disampaikan hanya beberapa hari setelah pemerintah AS menyatakan tidak lagi fokus untuk menggulingkan kekuasaan Assad. Disebutkan Washington bahwa soal kekuasaan Assad tergantung pada rakyat Suriah sendiri, bukan negara-negara Barat.

Terkait serangan kimia di Suriah pada Selasa (4/4/), negara-negara Barat termasuk AS menyalahkan pasukan militer Assad. Pejabat-pejabat intelijen AS mengatakan, kematian para korban besar kemungkinan disebabkan oleh gas syaraf sarin yang dijatuhkan oleh pesawat tempur Suriah.

Pemerintah Suriah membantah terlibat dalam serangan gas beracun itu dan menyalahkan pemberontak atas serangan kimia terparah di Suriah itu. Rusia pun membela sekutunya, Suriah dengan menyatakan bahwa gas beracun tersebut adalah milik pemberontak yang disimpan dalam gudang, yang terkena serangan udara rezim Suriah.

Namun organisasi pemantau konflik Suriah, Syrian Observatory for Human Rights menyatakan, kecil kemungkinan kelompok pemberontak mampu memproduksi senjata kimia dan serangan itu dilakukan dengan pesawat tempur, yang hanya dimiliki pasukan rezim Assad.

(ita/ita)


Berita Terkait