Seperti dilansir news.com.au, Rabu (5/4/2017), Euan Graham selaku Direktur Program Keamanan Internasional pada Lowy Institute menyebut uji coba rudal Korut itu bukan sekadar 'pembuka tirai' untuk pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping, pekan ini.
"Ini bertujuan di luar Trump," ucap Graham merujuk pada uji coba rudal Korut yang digelar Rabu (5/4) waktu setempat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Jelang Pertemuan Trump-Xi, Korut Kembali Gelar Uji Coba Rudal
China merupakan satu-satunya sekutu Korut yang sangat terisolasi. Hubungan keduanya tidak terlalu baik sejak mendiang Kim Jong-Il, ayah Kim Jong-Un, berkuasa. Namun Korut tahu selalu ada satu hal yang lebih ditakuti China, selain sekutu bersenjatakan nuklir. Korut berusaha mendorong hal itu.
"Beijing mengkhawatirkan instabilitas di perbatasannya, lebih dari apapun," sebut Graham.
Graham menyatakan, AS seharusnya khawatir dengan dukungan ekonomi China untuk Korut yang terus berlangsung hingga kini. Namun China sendiri juga sebenarnya dalam posisi sulit. China diharapkan menekan Korut untuk meninggalkan ambisi nuklirnya, sementara China sendiri tidak bisa menarik bantuannya untuk Korut karena akan memicu kolaps.
Meskipun saat ini belum mencapai ambisi nuklirnya, Korut ingin menunjukkan kepada AS dan China bahwa mereka bisa melakukan hak-hal ekstrem. Lebih penting lagi, setiap uji coba yang dilakukan Korut membawa negara itu lebih dekat pada mimpi senjata nuklir mereka.
"Itu juga peringatan, jangan mendorong kami terlalu jauh atau kami akan datang dan menggigit Anda," tutur Graham memberi pengandaian.
Uji coba rudal balistik terbaru Korut digelar dari Sinpo, kota pelabuhan di pantai timur Korut. Rudal balistik, yang disebut AS sebagai jenis KN-15 dengan jangkauan medium itu, dilaporkan mengudara sejauh 60 kilometer sebelum jatuh di perairan timur Korut.
(nvc/ita)











































