Bentrokan pada Rabu (29/3) malam waktu setempat itu merupakan yang ketiga kalinya terjadi dalam tiga malam berturut-turut. Aparat polisi pun terpaksa menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa.
Seperti diberitakan AFP, Kamis (30/3/2017) ratusan orang ikut serta dalam aksi demo tersebut. Kebanyakan demonstran berasal dari komunitas Asia setempat. Mereka marah atas kematian pria China bernama Shaoyo Liu akibat ditembak polisi pada 23 Maret lalu. Para demonstran menuntut keadilan untuk Liu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun keterangan tersebut dibantah oleh Calvin Job, pengacara keluarga Liu. "Dia tidak melukai siapapun," cetus Job. Menurut keluarga pria tersebut, tak ada keributan rumah tangga.
Kementerian Luar Negeri Prancis telah mengkonfirmasi bahwa penyelidikan tengah dilakukan untuk mengetahui latar belakang penembakan tersebut.
Bulan lalu, gelombang aksi demo memprotes kebrutalan polisi juga terjadi di Paris. Unjuk rasa tersebut dilakukan menyusul penganiayaan yang dilakukan polisi terhadap seorang pemuda berkulit hitam di pinggiran Paris. Korban yang berumur 22 tahun itu, mengalami luka-luka parah dan harus menjalani operasi darurat akibat penganiayaan tersebut. Empat polisi yang terlibat dalam kekerasan tersebut telah didakwa dengan penyerangan parah dan salah satu dari keempat polisi didakwa dengan pemerkosaan setelah menyodomi korban.
(ita/ita)











































