Dalam konferensi tahunan forum pro-Israel terbesar di Washington, American Israel Public Affairs Committee (AIPAC), Haley menyampaikan sikap yang berbeda dari pendahulunya semasa pemerintahan Presiden Barack Obama.
Dalam konferensi tersebut, Haley menyinggung tentang abstainnya AS dalam voting Dewan Keamanan PBB pada Desember 2016 lalu. Saat itu, DK BBB berhasil mengadopsi Resolusi 2334 mengenai penghentian permukiman Israel dikarenakan AS tidak menggunakan hak vetonya. Padahal sebelumnya AS selalu menggunakan hak vetonya untuk menggagalkan resolusi PBB yang menyudutkan Israel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Apa yang bisa saya katakan adalah bahwa semua orang di PBB takut membahas dengan saya mengenai Resolusi 2334," cetus Haley yang kembali disambut meriah oleh para undangan kelompok lobi pro-Israel tersebut.
Haley menegaskan, abstainnya AS dalam voting DK PBB mengenai Israel tak akan pernah terjadi lagi. "Dan saya ingin mereka tahu bahwa, ya itu telah terjadi tapi itu tak akan pernah terjadi lagi. Hari-hari penyerangan Israel berakhir sudah," tegasnya.
Dalam voting DK PBB pada Desember 2016 lalu, dengan abstainnya AS, maka untuk pertama kalinya sejak tahun 1979, DK PBB bisa mengadopsi resolusi yang mengecam kebijakan permukiman Israel di wilayah Palestina. Saat itu tepuk tangan para diplomat bergemuruh di ruang voting DK PBB setelah resolusi mengenai larangan pembangunan permukiman Yahudi di wilayah Palestina itu, mendapat dukungan dari semua negara anggota DK PBB.
Putusan mengejutkan itu terjadi meski sebelumnya pemerintah Israel dan Presiden terpilih AS Donald Trump berupaya keras untuk menggagalkan resolusi tersebut. Sebelum voting dimulai, Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu telah mendesak AS untuk menggunakan hak vetonya guna menggagalkan resolusi.
(ita/ita)











































