AS Serukan Rusia Bebaskan Segera Ratusan Demonstran Antikorupsi

AS Serukan Rusia Bebaskan Segera Ratusan Demonstran Antikorupsi

Rita Uli Hutapea - detikNews
Senin, 27 Mar 2017 14:09 WIB
AS Serukan Rusia Bebaskan Segera Ratusan Demonstran Antikorupsi
aksi demo di Rusia (Foto: REUTERS/Maxim Shemetov)
Moskow - Ratusan demonstran ditangkap dalam aksi demo besar-besaran yang berlangsung di Moskow, Rusia. Pemerintah Amerika Serikat menyerukan otoritas Rusia untuk segera membebaskan para demonstran tersebut.

Aksi demo antikorupsi yang berlangsung di Moskow pada Minggu (26/3) merupakan aksi demo tanpa izin terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Kepolisian setempat menyebutkan jumlah demonstran mencapai antara 7 ribu hingga 8 ribu orang.

"Amerika Serikat mengecam keras penahanan ratusan demonstran damai di seluruh Rusia," ujar juru bicara Departemen Luar Negeri AS Mark Toner dalam statemen seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (27/3/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Penahanan demonstran damai, pengamat HAM dan para jurnalis merupakan penghinaan terhadap nilai-nilai inti demorasi," imbuhnya.

"Amerika Serikat akan memonitor situasi ini, dan kami meminta pemerintah Rusia untuk segera membebaskan semua demonstran damai," kata Toner.

Kepolisian Rusia menyatakan, sekitar 500 orang telah ditangkap di Moskow dalam aksi demo untuk menuntut Perdana Menteri Dmitry Medvedev mengundurkan diri atas tuduhan korupsi. Namun menurut OVD-Info, situs web yang memonitor penahanan para aktivis, setidaknya 933 demonstran telah ditangkap, beserta puluhan orang di kota-kota lain.

Di antara mereka yang ditahan adalah pemimpin oposisi Alexei Navalny, yang organisasi antikorupsinya menyelenggarakan aksi demo besar tersebut. Toner mengatakan, pemerintah AS terganggu dengan penangkapan Navalny yang telah mengumumkan rencana untuk mencalonkan diri menjadi calon presiden dalam pemilihan pada tahun 2018.

Navalny sebelumnya telah melontarkan tudingan bahwa PM Medvedev memiliki harta kekayaan jauh di atas gaji resminya. Juru bicara Medvedev menyangkal tudingan itu dan menyebutnya sebagai 'serangan propaganda' yang tidak layak dikomentari.


(ita/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads