Aksi demo antikorupsi yang berlangsung di Moskow pada Minggu (26/3) merupakan aksi demo tanpa izin terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Kepolisian setempat menyebutkan jumlah demonstran mencapai antara 7 ribu hingga 8 ribu orang.
"Amerika Serikat mengecam keras penahanan ratusan demonstran damai di seluruh Rusia," ujar juru bicara Departemen Luar Negeri AS Mark Toner dalam statemen seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (27/3/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Amerika Serikat akan memonitor situasi ini, dan kami meminta pemerintah Rusia untuk segera membebaskan semua demonstran damai," kata Toner.
Kepolisian Rusia menyatakan, sekitar 500 orang telah ditangkap di Moskow dalam aksi demo untuk menuntut Perdana Menteri Dmitry Medvedev mengundurkan diri atas tuduhan korupsi. Namun menurut OVD-Info, situs web yang memonitor penahanan para aktivis, setidaknya 933 demonstran telah ditangkap, beserta puluhan orang di kota-kota lain.
Di antara mereka yang ditahan adalah pemimpin oposisi Alexei Navalny, yang organisasi antikorupsinya menyelenggarakan aksi demo besar tersebut. Toner mengatakan, pemerintah AS terganggu dengan penangkapan Navalny yang telah mengumumkan rencana untuk mencalonkan diri menjadi calon presiden dalam pemilihan pada tahun 2018.
Navalny sebelumnya telah melontarkan tudingan bahwa PM Medvedev memiliki harta kekayaan jauh di atas gaji resminya. Juru bicara Medvedev menyangkal tudingan itu dan menyebutnya sebagai 'serangan propaganda' yang tidak layak dikomentari.
(ita/ita)











































