Kedutaan Besar Saudi di London mengkonfirmasi bahwa Masood bekerja di Saudi sebagai guru Bahasa Inggris antara tahun 2005 hingga 2009.
"Selama waktunya di Arab Saudi, Khalid Masood tidak muncul dalam radar badan keamanan dan tidak punya catatan kejahatan di Kerajaan Arab Saudi," demikian statemen Kedutaan Besar Saudi pada Jumat (24/3) seperti dilansir kantor berita AFP, Sabtu (25/3/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain di Yanbu, Masood dilaporkan pernah bekerja sebagai tenaga pengajar bahasa Inggris untuk para pekerja di General Authority of Civil Aviation (GACA) di Jeddah. GACA merupakan institusi nasional di Saudi yang mengurusi sektor penerbangan dan hal-hal terkait.
Dokumen riwayat hidup itu menyebutkan Masood memiliki gelar sarjana ekonomi. Dia disebutkan memulai kariernya sebagai sales dan kemudian dipromosikan menjadi manajer pada Aaron Chemicals di Bodiam, East Sussex. Aaron Chemicals merupakan perusahaan perlengkapan kebersihan yang memberikan suplai pada restoran, hotel dan rumah sakit di Inggris.
Tahun 2004, Masood menikah dengan seorang wanita muslim bernama Farzana Malik. Pada tahun yang sama, menurut riwayat hidupnya, Masood mendapatkan sertifikat TESOL (Teachers of English to Speakers of Other Languages) yang mengizinkannya mengajar bahasa Inggris untuk orang asing.
Pada musim semi tahun 2009, Masood dilaporkan kembali ke Inggris. Berselang lima bulan, Masood bergabung dengan TEFL college di kota Luton dan bekerja sebagai 'guru senior Bahasa Inggris'.
Masood yang memiliki sejumlah nama alias, merupakan warga Inggris kelahiran Kent yang lama tinggal di kota Birmingham. Pria itu lahir dengan nama Adrian Russell Ajao dan dilahirkan pada Hari Natal 25 Desember 1964.
Sebelum bekerja di Saudi, Masood terjerat berbagai tindak pidana selama kurun waktu 20 tahun, yang membuatnya hidup berpindah-pindah di Inggris. Masood pertama kali mendapat hukuman penjara pada November 1983 atas dakwaan pidana memicu kerusakan properti orang lain. Saat itu dia berumur 18 tahun. Dakwaan pidana terakhirnya, tercatat pada tahun 2003 usai penikaman yang dilakukannya.
Masood ditembak polisi usai membunuh seorang polisi di dekat gerbang Gedung Parlemen di London pada Rabu (22/3) sore waktu setempat. Sebelum menusuk mati polisi bernama Keith Palmer tersebut, pria berumur 52 tahun itu menabrakkan mobilnya ke para pejalan kaki di Jembatan Westminster, hingga menewaskan tiga orang. Ketiganya adalah seorang pria Amerika Serikat bernama Kurt Cochran (54), seorang wanita Inggris bernama Aysha Frade (43) dan seorang kakek berusia 75 tahun yang meninggal saat dirawat di rumah sakit. (ita/ita)











































