Seperti dilansir Reuters, Rabu (22/3/2017), Kementerian Pertahanan Korea Selatan (Korsel) menyatakan Korut berupaya meluncurkan rudal dari kota Wonsan, yang ada di pantai timur negara komunis itu. Namun rudal itu tidak meluncur dengan wajar sebagaimana mestinya.
Pihak Korsel menyatakan masih melakukan analisis mendalam untuk mendapat rincian terkait uji coba rudal Korut itu. Secara terpisah, militer Amerika Serikat (AS) menyebut rudal Korut itu meledak di udara, sesaat setelah diluncurkan pada Rabu (22/3) waktu setempat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebuah rudal tampaknya meledak dalam beberapa detik usai diluncurkan," imbuh Benham, sembari menyatakan pengamatan detail masih terus dilakukan.
Secara terpisah, kantor berita Korsel Yonhap menyebut rudal Korut itu mungkin meledak saat diluncurkan, atau sebelum mencapai ketinggian yang bisa terdeteksi oleh radar Korsel.
Upaya peluncuran rudal Korut ini terjadi saat utusan AS untuk program nuklir Korut, Joseph Yun, sedang bertemu dengan mitranya di Seoul, Korsel untuk membahas respons atas program senjata Korut. Sedangkan pekan lalu, Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson mengunjungi Jepang, Korsel dan China. Isu Korut menjadi agenda utama dalam pembicaraan Tillerson dengan negara-negara Asia Timur itu.
Tillerson menyatakan kebijakan diplomasi selama bertahun-tahun terhadap Korut terkait program senjata nuklirnya, telah gagal. Saat ini aksi militer terhadap Korut masuk dalam opsi untuk dipertimbangkan. Atas pernyataan AS itu, Korut menanggapi enteng dengan mengklaim pihaknya punya kemampuan untuk merespons kuat ancaman perang dari AS.
Korut telah melakukan dua uji coba nuklir dan serangkaian peluncuran rudal sejak awal tahun lalu. Praktik itu jelas melanggar resolusi PBB yang melarang Korut melakukan setiap aktivitas yang melibatkan rudal balistik. Saat ini Korut diyakini sedang mengembangkan rudal bermuatan nuklir yang bisa menjangkau wilayah AS.
(nvc/ita)











































