Seperti dilansir Reuters, Selasa (21/3/2017), Al-Abadi bertatap muka dengan Trump untuk pertama kalinya sejak Trump dilantik pada 20 Januari lalu. Keduanya duduk bersama dan membahas sejumlah isu, terutama kelompok radikal Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).
Di hadapan Trump, Al-Abadi menyampaikan terima kasih pada Trump karena telah merevisi kebijakan imigrasinya yang kontroversial. Dikeluarkannya Irak dari daftar larangan itu merupakan bagian dari permintaan pemerintah Irak kepada AS.
"Saya berterima kasih karena mengeluarkan Irak dari perintah (eksekutif) presiden ... ini merupakan respons positif bagi permintaan Irak yang akan berdampak lebih baik bagi hubungan dengan Irak dan nilai-nilai Irak serta hubungan Irak-Amerika," ucap Al-Abadi kepada Trump.
Baca juga: Trump Teken Revisi Kebijakan Imigrasi, Warga Irak Kini Bisa ke AS
Bulan ini, Trump merevisi kebijakannya yang tadinya melarang warga dari tujuh negara mayoritas muslim, menjadi hanya enam negara mayoritas muslim yang dilarang masuk AS. Enam negara itu antara lain Iran, Libya, Somalia, Sudan, Suriah, dan Yaman. Irak dikeluarkan dari daftar itu.
Kendati demikian, baik kebijakan yang pertama maupun kebijakan revisi kedua sama-sama ditangguhkan oleh pengadilan federal AS, karena dianggap melanggar konstitusi yang mengatur kebebasan beragama dan dianggap mendiskriminasi warga muslim. Trump bersikeras kebijakan itu perlu untuk melindungi AS dari serangan teroris.
Membahas ISIS, Al-Abadi menyatakan keinginannya untuk menjalin kerja sama yang lebih kuat dengan AS dalam pertempuran melawan ISIS. Hingga kini, ISIS masih menguasai sebagian wilayah Irak, khususnya Mosul yang merupakan kota terbesar kedua di negara tersebut.
Baca juga: Hakim Hawaii Bekukan Revisi Kebijakan Imigrasi Trump
Menanggapi hal itu, Trump menuturkan kepada Al-Abadi bahwa dirinya menyadari pasukan Irak berjuang keras untuk melawan ISIS. "Itu bukan tugas yang mudah. Ini tugas yang sangat sulit. Tentara Anda berjuang keras. Saya tahu Mosul terus berubah. ... Kita akan mencari cara," ucap Trump.
"Tujuan utama kita adalah kita harus mengenyahkan ISIS. Kita akan menghancurkan ISIS. Itu akan terjadi. Itu sedang terjadi sekarang," imbuhnya.
(nvc/ita)











































