Seperti dilansir CNN, Rabu (15/3/2017), Erdogan menyebut Belanda gagal mencegah pembunuhan 8 ribu warga muslim etnis Bosniak, saat pasukan Bosnia Serbia menguasai kota Srebrenica tahun 1995 lalu. Srebrenica terletak di wilayah Bosnia dan Herzegovina, sedangkan etnis Bosniak merupakan etnis terbesar di wilayah itu.
"Kita tahu soal Belanda dan rakyat Holland dari pembantaian Srebrenica. Kita tahu mereka, bagaimana mereka betul-betul membantai orang-orang di Srebrenica. Kita tidak butuh siapapun untuk menguliahi kita soal peradaban," ucap Erdogan dalam pidatonya di Ankara pada Selasa (14/3) waktu setempat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Memanas, Turki Bekukan Hubungan Tingkat Tinggi dengan Belanda
Komentar keras ini dilontarkan Erdogan saat hubungan diplomatik tingkat tinggi antara Turki dengan Belanda telah dibekukan. Erdogan marah setelah Belanda mengusir dua menteri Turki yang hendak menghadiri kampanye terkait referendum 16 April, untuk memperkuat kekuasaan Presiden Turki.
Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte, langsung menanggapi pernyataan keras Erdogan itu dalam wawancara dengan televisi Belanda, RTL. PM Rutte menuding Erdogan telah melakukan 'pemalsuan sejarah yang menjijikkan'.
"Dia (Erdogan) terus mendesak. Tidak bisa dipercaya, ini sungguh kualitas dan gaya rendahan. Kita tidak akan merendahkan diri kita hingga ke level ini. Ini sungguh tidak bisa diterima dan sangat mengganggu," tegas PM Rutte.
Erdogan sebelumnya memancing kemarahan Belanda dengan menuding negara itu berperilaku fasis dan bergaya Nazi. PM Rutte meminta Erdogan meminta maaf atas komentar itu. Belanda sendiri telah kehilangan lebih dari 200 ribu warganya saat Nazi Jerman menduduki Belanda pada era Perang Dunia II.
Baca juga: Balas Belanda, Turki Tolak Pendaratan Pesawat yang Bawa Dubes Belanda
(nvc/ita)











































