"Keduanya merupakan mitra kuat dan sekutu NATO. Kami meminta keduanya untuk tidak memperumit situasi dan bekerja bersama untuk menyelesaikan ini," ucap seorang pejabat senior pada Departemen Luar Negeri AS yang enggan disebut namanya, seperti dilansir AFP, Selasa (14/3/2017).
Pejabat senior AS ini menyebut, pemerintahan baru Presiden Donald Trump tidak secara langsung melakukan intervensi karena baik Belanda maupun Turki merupakan negara dengan demokrasi yang kuat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Memanas, Turki Bekukan Hubungan Tingkat Tinggi dengan Belanda
Selain AS, Uni Eropa dan juga NATO juga menyerukan agar Belanda serta Turki untuk segera meredakan ketegangan. Uni Eropa bahkan meminta Presiden Recep Tayyip Erdogan untuk menahan diri dari pernyataan-pernyataan menghasut.
Pekan ini, Erdogan menyebut pemerintah Belanda menganut fasisme dan bergaya Nazi setelah dua menterinya diusir saat akan menghadiri kampanye di Den Haag dan Rotterdam. Kampanye itu bertujuan meraup dukungan rakyat Turki di Belanda dalam referendum 16 April yang memperkuat kekuasaan Presiden Turki.
Unjuk rasa warga Turki di Rotterdam, pada Minggu (12/3), untuk memprotes pengusiran itu, berujung bentrok. Polisi menggunakan meriam air, polisi berkuda dan anjing kepolisian untuk membubarkan demonstran. Bahkan ada laporan praktik kekerasan oleh polisi Belanda terhadap demonstran Turki.
Otoritas Turki telah mengajukan protes dengan memanggil utusan diplomatik Belanda di Ankara. Tidak hanya itu, Turki juga membekukan hubungan tingkat tinggi dengan Belanda dan mencegah Duta Besar Belanda, yang sedang cuti, untuk kembali ke Ankara.
Baca juga: Hubungan Memanas, Belanda Ingatkan Warganya Berhati-hati di Turki
Pejabat AS itu tidak mengindikasikan posisi yang lebih mendukung Belanda ataupun Turki dalam krisis ini. Namun dia memberikan pernyataan tegas terkait ketegangan diplomatik ini. "Apa yang ingin kami lihat adalah A) orang-orang diizinkan melakukan protes secara damai dan berunjuk rasa secara damai tapi B) menyadari hal itu, kedua negara perlu menahan diri dari perang kata-kata yang telah kita saksikan selama akhir pekan," tegasnya.
(nvc/nwk)











































