Sumber kehakiman Libanon mengatakan seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (9/3/2017), penggerebekan yang dimulai pada Selasa (7/3) dan dilanjutkan pada Rabu (8/3) waktu setempat terhadap beberapa institusi keuangan tersebut dilakukan "atas kecurigaan mereka mentransfer uang dalam jumlah besar ke wilayah-wilayah yang dikuasai ISIS di Raqa dan lainnya."
Ditambahkan sumber tersebut, sejumlah orang telah ditangkap untuk penyelidikan kasus ini, namun mereka ditahan secara resmi.
"Informasi tengah dikumpulkan mengenai nilai uang yang ditransfer," tutur sumber tersebut.
Media-media Libanon mengatakan, sebanyak US$ 20 juta telah ditransfer ke ISIS yang berbasis di Suriah, Irak dan Libya itu. Namun sumber kehakiman tersebut mengatakan angka tersebut terlalu berlebihan. Meski diakuinya, jumlah yang dikirimkan memang "besar."
Bank Sentral Libanon menerapkan aturan ketat pada institusi keuangan, yang dimaksudkan untuk mencegah pencucian uang dan pendanaan terorisme. Aturan tersebut termasuk mengenai batasan jumlah uang yang bisa ditransfer ke luar negeri tanpa tambahan berkas-berkas pendukung. (ita/ita)











































