Dituturkan seorang komandan Garda Revolusioner Iran, Mehdi Hashemi, seperti dilansir Reuters, Rabu (8/3/2017), insiden itu terjadi pada Sabtu (4/3) waktu setempat. Hashemi menyalahkan kapal perang AS dalam insiden itu.
"Aksi tidak profesional dari Amerika itu bisa memicu konsekuensi yang tidak bisa dihindari," tegas Hashemi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Permusuhan antara AS dengan Iran selama bertahun-tahun, meleleh tahun lalu usai tercapainya kesepakatan nuklir yang berimbas pada pencabutan sanksi untuk Iran. Namun perbedaan-perbedaan besar antara kedua negara, mulai dari rudal balistik hingga terkait konflik Suriah dan Irak terus mencuat.
Presiden Iran Hassan Rouhani, tanpa menyebut insiden di Selat Hormuz, juga memberikan peringatan untuk AS pada Rabu (8/3) ini.
"Jika musuh Iran yang bebal berpikir soal menyerbu Iran, mereka seharusnya sadar bahwa pasukan bersenjata kita jauh lebih kuat dari tahun 1980, saat Irak menyerang," tegasnya dalam siaran langsung televisi nasional Iran.
Semasa kampanye pilpres pada September 2016, Presiden Donald Trump bersumpah bahwa setiap kapal Iran yang melecehkan kapal perang AS akan 'ditembak habis-habisan'. Menanggapi insiden kali ini, pemerintahan Trump menyatakan akan menunjukkan 'ketegasan' terkait pembatasan aktivitas Iran di bawah kesepakatan nuklir.
(nvc/ita)











































