Dilansir Reuters, Senin (20/2/2017), Duterte sebelumnya akan menerbitkan perintahh eksekutif untuk mengerahkan kekuatan militer dalam perang melawan narkoba. Duterte juga ingin memberikan kekuatan militer untuk menangkap polisi yang tidak melakukan tugasnya dengan baik.
Kepala Agen Pelaksana Narkotika Filipina (PDEA)Isidro Lapena mengatakan, pasukan tentara hanya menyediakan bantuan dalam bentuk kampanye dan tidak melakukan patroli di pinggir jalan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Eduardo mengatakan, sekitar 5 ribu angkatan bersenjata Filipina siap bergabung dalam satgas. Ia menekankan satgas ini hanya bertugas untuk menangani sindikat narkoba kelas kakap.
"Angkatan bersenjata akan membantu kepolisian dalam memberantas sindikat narkoba tingkat atas," katanya.
Sekitar 7.600 orang telah tewas dalam operasi memerangi narkoba yang diluncurkan Duterte sejak 7 bulan lalu. Penyebab kematian orang-orang itu masih dipertanyakan, meskipun polisi menyalahkan konflik antar geng narkoba dan keberadaan tim pembunuh bayaran.
Organisasi HAM, Human Rights Watch (HRW) memperingatkan Duterte bahwa melibatkan militer merupakan langkah yang keliru, karena militer Filipina memiliki rekam jejak membunuh orang-orang di luar hukum. Namun Duterte menegaskan, dirinya tidak terlalu peduli pada pengedar dan pecandu narkoba. Dia malah mengakui telah meremehkan persoalan narkoba ketika pada awalnya menetapkan target 6 bulan untuk peperangan melawan narkoba. (brt/nkn)










































