Dilansir The Star, Sabtu (18/2/2017), peristiwa itu merupakan penjelasan terhadap tindakan dari dua orang wanita yang ditahan untuk penyelidikan pembunuhan Jong-Nam. Kejadian itu menjadi salah satu peristiwa pembunuhan kalangan atas di Malaysia.
Kedua wanita itu - Siti Aisyah yang merupakan WNI dan Đoàn Thị Hương yang memegang paspor Vietnam - dibawa satu tim dari kepolisian ke bandara pada Jumat (17/2) sekitar pukul 1.00 waktu setempat untuk melakukan reka ulang kejadian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka mengklaim mereka meninggalkan daerah setelah hal itu dilakukan," kata seorang sumber saat menambahkan bahwa kedua perempuan kemudian pergi ke toilet terdekat untuk mencuci cairan.
Tidak jelas apakah kedua perempuan tersebut mengenakan sarung tangan atau menggunakan sepotong kain untuk melaksanakan serangan itu. Siti Aisyah juga mengatakan kepada polisi bahwa ia ditawari USD 100 atau setara RM 445 oleh seorang pria untuk melakukan tindakan yang dia anggap sebagai lelucon terhadap pria tersebut (Jong-Nam).
Orang yang membayarnya dan tiga orang lainnya merupakan orang asing dan terlihat di rekaman CCTV di bandara dengan Siti Aisyah dan Thi Huong. Hal ini menjadi alasan perburuan empat orang yang diyakini menjadi "otak" di balik serangan terhadap Jong-Nam masih terus berlangsung.
Dalam sisi lain, hanya ada tatapan kosong dari staf yang bekerja di sebuah hotel tempat Siti Aisyah muncul. Setelah dicek, staf di hotel tersebut mengaku tidak mengenali Siti Aisyah.
"Saya tidak bisa mengenali Siti Aisyah di sini selain dari Indonesia," kata seorang pelayan restoran yang tak ingin disebut namanya.
Dia mengatakan tidak ada ruang penyimpanan di hotel kecuali lounge bilyar kecil, sebuah laporan dibongkar dan menyatakan Siti Aisyah pernah bekerja di lounge hotel itu. Staf yang bekerja di spa hotel juga mengaku tidak mengetahui siapa Siti Aisyah. (HSF/rna)











































