Seperti dilansir Reuters, Rabu (15/2/2017), pertemuan Trump dan Netanyahu ini diperkirakan akan membahas sejumlah isu Timur Tengah seperti konflik Suriah, nuklir Iran dan konflik Israel-Palestina, termasuk aktivitas pembangunan permukiman Yahudi dan apakah negara Palestina akan bisa terbentuk.
Netanyahu tiba di Washington DC pada Senin (13/2) malam waktu setempat. Sepanjang Selasa (14/2), Netanyahu menghabiskan waktu bersama para penasihat seniornya untuk mempersiapkan topik pembahasan dengan Trump.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para staf dan penasihat senior mengharapkan tidak ada perbedaan pendapat yang signifikan di antara Trump dan Netanyahu. Perhatian juga akan terarah pada bahasa tubuh keduanya. Trump dan Netanyahu telah saling mengenal sejak tahun 1980-an, namun Trump diketahui memiliki kecenderungan untuk menyalami setiap orang dengan gerakan mendominasi.
Netanyahu sendiri diharapkan bisa memperbaiki hubungan Israel-AS yang memburuk di bawah pemerintahan Presiden Barack Obama.
Sepanjang kampanye pilpres, Trump terus menyuarakan retorika pro-Israel. Dia bahkan berjanji akan memindahkan Kedubes AS untuk Israel, dari Tel Aviv ke Yerusalem. Namun janji ini tampaknya tidak akan terwujud segera, setelah pemerintahan Trump mendapat peringatan dari berbagai pihak termasuk Raja Yordania, Abdullah, bahwa langkah itu berpotensi memicu konflik.
Trump juga sempat menyatakan tidak akan menekan Israel untuk berunding dengan Palestina. Namun janji-janji itu mulai memudar seiring berjalannya waktu. Untuk isu permukiman Israel, pemerintahan Trump menyatakan menentang pembangunan atau perluasan permukiman dan menyebutnya tidak membantu upaya perdamaian Israel-Palestina.
Reuters menyebut, pertemuan Trump-Netanyahu pada Rabu (15/2) akan menjadi pertemuan penting untuk kejelasan hubungan AS-Israel di masa mendatang.
(nvc/ita)











































