Peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu (11/2) dengan penerbangan dari Austin, Texas, menuju ke San Fransisco. Pada Minggu (12/2), pihak maskapai menolak untuk mengindentifikasi pilot atau berkomentar selain meminta maaf kepada penumpang. Penumpang banyak meninggalkan pesawat demi keamanan mereka.
Dilansir dari Reuters, Senin (13/2/2017), seorang saksi mata mengatakan penerbangan itu terlambat 90 menit dan diterbangkan oleh pilot baru.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dia memulainya dengan mengatakan tidak memberikan suaranya baik untuk Trump maupun Clinton karena keduanya adalah sekelompok penipu... Kemudian ocehannya semakin memburuk dan tidak masuk akal untuk kebanyakan dari kami," imbuhnya.
Penumpang lainnya Randy Reiss mencuitkan pikirannya pada peristiwa tersebut. Pertama dia mengungkapkan,"Saya gemetar saat ini. Saya baru saya meninggalkan penerbangan 455 @united karena kapten pilot menunjukkan jika dia tidak dalam keadaan mental yang sehat," tulisnya.
Dia kemudian mengatakan tengah melalui proses perceraian, mengomentari beberapa pasangan antarrasial di penerbangan kelas satu dengan mengatakan "yee, kesatuan". Reiss menceritakan pilot itu berbicara padanya jika dia tidak harus terbang bersamanya jika merasa tidak nyaman.
Reiss mengunggah foto punggung pilot wanita tersebut di dalam terminal sedang berbicara dengan dua petugas berseragam.
"Dia menangis. Dia meminta maaf. Saya harap dia baik-baik saja dan segera mendapatkan bantuan yang dia butuhkan," ujar Reiss.
Juru bicara maskapai United Charles Hobart mengatakan pihaknya enggan berkomentar pada peristiwa yang terjadi pada Sabtu (11/2) itu.
"Kami terus menargetkan karyawan kami dengan standar tertinggi dan mengganti pilot tersebut dengan yang baru untuk mengoperasikan pesawat sejak berangkat dari Austin. Kami meminta maaf kepada para penumpang kami atas ketidaknyamanan ini," ujar pernyataan tersebut. (ams/dnu)











































