Mengoceh tentang Trump dan Hillary, Seorang Pilot di AS Diganti

Mengoceh tentang Trump dan Hillary, Seorang Pilot di AS Diganti

Aditya Mardiastuti - detikNews
Senin, 13 Feb 2017 00:46 WIB
Mengoceh tentang Trump dan Hillary, Seorang Pilot di AS Diganti
Ilustrasi pesawat United/Foto: (REUTERS/Louis Nastro)
Jakarta - Seorang pilot menggunakan peralatan komunikasi (interkom) pesawat untuk mengoceh mengenai kisah perceraiannya hingga pandangannya mengenai Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Hillary Clinton. Alhasil, dia dicoret dari penerbangan United Airlines sebelum lepas landas.

Peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu (11/2) dengan penerbangan dari Austin, Texas, menuju ke San Fransisco. Pada Minggu (12/2), pihak maskapai menolak untuk mengindentifikasi pilot atau berkomentar selain meminta maaf kepada penumpang. Penumpang banyak meninggalkan pesawat demi keamanan mereka.

Dilansir dari Reuters, Senin (13/2/2017), seorang saksi mata mengatakan penerbangan itu terlambat 90 menit dan diterbangkan oleh pilot baru.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dia muncul dan berpakaian layaknya warga sipil. Dia meminta kami untuk memberikan suara apakah sebaiknya kami memintanya memakai seragam atau terbang dengan pakaian yang dikenakannya," ujar salah satu penumpang bernama Pam O'Neal kepada televisi KPIX saat mendarat di San Fransisco.

"Dia memulainya dengan mengatakan tidak memberikan suaranya baik untuk Trump maupun Clinton karena keduanya adalah sekelompok penipu... Kemudian ocehannya semakin memburuk dan tidak masuk akal untuk kebanyakan dari kami," imbuhnya.

Penumpang lainnya Randy Reiss mencuitkan pikirannya pada peristiwa tersebut. Pertama dia mengungkapkan,"Saya gemetar saat ini. Saya baru saya meninggalkan penerbangan 455 @united karena kapten pilot menunjukkan jika dia tidak dalam keadaan mental yang sehat," tulisnya.

Dia kemudian mengatakan tengah melalui proses perceraian, mengomentari beberapa pasangan antarrasial di penerbangan kelas satu dengan mengatakan "yee, kesatuan". Reiss menceritakan pilot itu berbicara padanya jika dia tidak harus terbang bersamanya jika merasa tidak nyaman.

Reiss mengunggah foto punggung pilot wanita tersebut di dalam terminal sedang berbicara dengan dua petugas berseragam.

"Dia menangis. Dia meminta maaf. Saya harap dia baik-baik saja dan segera mendapatkan bantuan yang dia butuhkan," ujar Reiss.

Juru bicara maskapai United Charles Hobart mengatakan pihaknya enggan berkomentar pada peristiwa yang terjadi pada Sabtu (11/2) itu.

"Kami terus menargetkan karyawan kami dengan standar tertinggi dan mengganti pilot tersebut dengan yang baru untuk mengoperasikan pesawat sejak berangkat dari Austin. Kami meminta maaf kepada para penumpang kami atas ketidaknyamanan ini," ujar pernyataan tersebut. (ams/dnu)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads