Seperti dilansir Reuters, Jumat (10/2/2017), otoritas negara bagian New South Wales (NSW) bersiap memutus aliran listrik untuk sementara ke sejumlah area di NSW pada Jumat (10/2) malam waktu setempat. Hal ini dilakukan demi mencegah 'kelebihan muatan' karena beberapa hari sebelumnya, sekitar 40 ribu rumah dan pusat bisnis di Australia Selatan, tak mendapat aliran listrik akibat gelombang panas ekstrem ini.
Menteri Energi NSW, Don Harwin, meminta warga setempat untuk mengurangi penggunaan listrik usai bekerja. Warga juga diminta untuk lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah agar penggunaan listrik tidak berlebihan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Prakirawan cuaca Olenka Duma dari Biro Meteorologi NSW menyatakan, gelombang panas yang 'terbangun' di bagian tengah Australia yang gersang, terbawa ke bagian timur yang merupakan wilayah paling padat di negara tersebut.
"Ini seperti jendela dan kaca tertutup untuk waktu yang lama dan sekarang gelombang udara panas bergerak ke sini," tuturnya memberi contoh.
Suhu udara di sebagian wilayah NSW dan Australian Capital Territory -- yang menjadi lokasi ibu kota dan pusat pemerintahan Canberra -- mencapai 47 derajat Celcius pada Jumat (10/2) waktu setempat. Suhu udara ini diperkirakan akan bertambah panas pada Sabtu (11/2) besok.
Akibat gelombang panas ini, harga listrik melonjak hingga Aus$ 14 ribu (Rp 142 juta) megawatt per jam. Pusat pembangkit listrik pun berjuang untuk memenuhi kebutuhan listrik yang meningkat karena gelombang panas ini.
"Saya tidak melakukan bisnis apapun hari ini, saya hanya duduk di rumah, dengan pendingin udara. Orang-orang yang ada di pantai memilih masuk ke air atau pulang ke rumah. Tidak ada yang nongkrong untuk makan es krim," tutur warga setempat, Ned Qutami, yang mengelola enam toko es krim di Sydney.
(nvc/ita)










































