Seperti dilansir Reuters, Rabu (8/2/2017), badai yang menerjang Louisiana ini, menghantam jalan raya dan menumbangkan pepohonan, tiang listrik serta rumah warga. Gubernur John Bel Edwards menetapkan situasi darurat untuk seluruh wilayah negara bagian Louisiana.
Petugas penyelamat terus menyisir lokasi terdampak tornado untuk mencari korban selamat. Tornado ini memicu kerusakan di beberapa wilayah Louisiana. Aliran listrik ke nyaris 7.800 rumah warga New Orleans terputus dan kondisi ini diperkirakan akan berlangsung hingga Rabu (8/2) waktu setempat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Edwards menyebut ada sekitar 20 orang yang terluka akibat tornado ini. Dikatakan Edwards, beberapa dari korban luka, mengalami luka yang tidak membahayakan nyawa mereka, namun cukup serius. Sedangkan laporan Badan Prakiraan Cuaca Nasional (NWS) menyebut ada 29 orang yang luka-luka.
Satu korban luka berada di gedung Badan Antariksa Nasional AS (NASA) di New Orleans. Operator gedung itu, Bill Gerstenmaier, menyebut, sekitar 200 mobil di lokasi itu rusak akibat badai, namun perlengkapan luar angkasa untuk misi terbaru, termasuk roket dan kapsul lolos dari kerusakan.
Secara terpisah, Garda Nasional Louisiana menyatakan, pihaknya masih terus melakukan operasi pencarian dan penyelamatan. Mereka juga terus mencari korban luka yang mungkin terjebak puing sembari menaksir besarnya kerusakan.
Badai ini menerjang sebagian besar wilayah New Orleans dan Baton Rouge, yang merupakan ibu kota negara bagian Louisiana. Ini merupakan keempat kalinya dalam setahun terkahir, negara bagian itu dilanda bencana alam.
Sebelumnya, serangkaian tornado menghantam Louisiana pada Februari 2016 dan banjir besar menewaskan empat orang pada Maret 2016. Kemudian pada Agustus 2016, banjir besar menghancurkan sebagian besar wilayah Louisiana, dengan lebih dari 60 ribu rumah warga hancur atau rusak. Banjir Lousiana itu tercatat sebagai bencana alam terburuk sejak badai Katrina tahun 2005.
Wali Kota New Orleans, Mitch Landrieu, menuturkan kepada wartawan bahwa salah satu tornado memicu kehancuran sepanjang 3 kilometer. Kehancuran itu berdampak pada area yang menjadi lokasi berdirinya 5 ribu bangunan.
"Sungguh menghancurkan dan banyak keluarga yang kehilangan semuanya yang mereka miliki," sebut Landrieu.
(nvc/ita)











































