Dituturkan beberapa pejabat AS yang memahami rencana ini, seperti dilansir Reuters, Rabu (8/2/2017), pemerintahan Trump telah berkonsultasi dengan sejumlah lembaga pemerintah AS soal proposal, yang salah satu isinya memasukkan IRGC dalam daftar organisasi teroris.
Jika proposal ini diloloskan maka akan semakin menambah tekanan yang diberikan AS kepada Iran. Pemerintahan Trump sebelumnya menjatuhkan sanksi baru pada puluhan individu dan perusahaan terkait program rudal Iran dan mereka yang mendukung IRGC.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
IRGC sejauh ini merupakan kekuatan keamanan paling kuat di Iran. Namun IRCG dilaporkan juga memiliki andil dalam perekonomian dan memiliki pengaruh besar dalam sistem politik Iran.
Tidak diketahui pasti isi proposal yang tengah dibahas pemerintahan Trump. Namun diperkirakan akan dirilis dalam bentuk perintah eksekutif yang menginstruksikan Departemen Luar Negeri AS untuk mempertimbangkan penetapan IRGC sebagai organisasi teroris.
Belum diketahui pasti apakah Trump akan menandatangani perintah eksekutif semacam itu. Gedung Putih belum mengomentari laporan ini. Iran sebelumnya menyangkal terlibat dalam terorisme.
Baca juga: Pemimpin Tertinggi Iran: Trump Tunjukkan Wajah Amerika Sebenarnya
Pekan lalu, Reuters melaporkan bahwa rencana penetapan IRGC sebagai organisasi teroris ini masuk dalam pengkajian kebijakan AS terhadap Iran yang tengah dilakukan pemerintahan Trump. Tujuan utamanya adalah menghentikan investasi asing dalam perekonomian Iran, karena IRGC terlibat dalam berbagai sektor utama termasuk transportasi dan perminyakan, beberapa secara samar.
Disebutkan seorang pejabat senior AS, daripada mencabut kesepakatan nuklir Iran, Gedung Putih mungkin akan lebih memilih 'menghukum' Iran atas dukungannya bagi kelompok militan Hizbullah asal Libanon, pemberontak Houthi di Yaman dan pasukan Syiah di Irak, serta dukungan diam-diam Iran untuk serangan dunia maya terhadap Arab Saudi maupun negara Teluk Arab lainnya.
Di sisi lain, menetapkan kekuatan militer terbesar Iran sebagai kelompok teroris bisa mendestabilisasi keamanan kawasan Timur Tengah. Langkah ini juga berpotensi memperumit pertempuran AS melawan kelompok radikal Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di Irak, yang melibatkan milisi Syiah yang didukung Iran.
(nvc/ita)










































