Seperti dilansir CNN, Sabtu (4/2/2017), tidak sedikit anak-anak dari tujuh negara yang dilarang masuk ke AS menjadi korban kebijakan imigrasi Trump. Kebijakan itu melarang warga dari Irak, Iran, Libya, Somalia, Sudan, Suriah dan Yaman masuk ke AS untuk setidaknya 90 hari ke depan.
Kebijakan yang ditandatangani 27 Januari itu, juga menangguhkan penerimaan pengungsi Suriah untuk batas waktu yang tak ditentukan dan pengungsi dari negara lainnya untuk 120 hari ke depan. Aturan baru itu mengacaukan bandara-bandara AS juga maskapai internasional karena banyak penumpang yang tak bisa masuk AS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keduanya menunggu penerbangan ke AS dari Djibouti, Afrika, pada Sabtu (28/1) waktu setempat. Namun tiba-tiba mereka dikagetkan oleh aturan imigrasi baru Presiden Trump.
"Kami sedang antre dengan membawa koper dan mereka memberitahu kami bahwa Eman tidak bisa naik pesawat karena dia berpaspor Yaman. Dia hanya anak perempuan berusia 12 tahun. Bagaimana bisa dia dianggap teroris?" ucap Ali.
Ali dan putrinya hanya salah satu dari sekian banyak keluarga yang hidupnya kacau akibat kebijakan imigrasi Trump. Berikut lima kisah anak-anak yang menjadi korban kebijakan kontroversial Trump seperti dilansir CNN:
Eman Ali (12) - Yaman
|
Eman Ali (CNN/Ahmed Mohammed Ali)
|
Eman Ali lahir di Yaman tahun 2005. Saat itu, ibundanya yang mengandung tengah berada di Yaman untuk urusan darurat keluarga mereka. Eman menjadi satu-satunya anggota keluarga yang tak memegang kewarganegaraan AS.
Saat keluarga ini hendak pulang ke rumah mereka di California, AS, tahun 2007, mereka tak bisa membawa serta Eman karena status imigrasinya. Keluarga baru menyadari bahwa Eman tidak memegang kewarganegaraan AS, karena sang ibunda tidak tinggal di AS selama 5 tahun sebelum Eman lahir.
Proses pengajuan visa untuk Eman pun memakan waktu bertahun-tahun. Ayah, ibunda dan saudara perempuannya tetap tinggal di Yaman untuk menemani Eman. Sang ayah, Ahmed Mohammed Ali bekerja di pusat perbelanjaan setempat untuk menafkahi mereka.
Tahun 2013, keluarga ini mengambil keputusan berat. Ali kembali pulang ke AS. "Saya terpaksa membiarkan istri dan putri sulung saya kembali ke AS dan meninggalkan putri bungsu saya dengan ayah dan ibu saya. Saya tidak punya pilihan," tutur Ali.
"Saya tidak bisa meninggalkan seluruh keluarga saya di Yaman," imbuhnya.
Mereka mengira Eman akan segera bergabung dengan mereka, namun nyaris 4 tahun dihabiskan untuk mengurus visa AS bagi Eman. Ali pergi ke Djibouti untuk menyelesaikan proses pengajuan visa di Kedutaan Besar AS di sana. Tidak ada Kedubes AS di Yaman karena konflik.
"Kami pikir inilah saatnya, inilah akhirnya. Keluarga ini akan bersama. Eman sangat senang setelah bertahun-tahun menunggu. Dan kemudian muncullah aturan hukum baru," ucap Ali.
Terlalu berbahaya untuk mengirim Eman kembali ke Yaman, jadi Ali dan putrinya tinggal sementara di hotel Djibouti. Namun biayanya mahal dan Ali tidak bisa bekerja. Keluarga Ali ikut mengajukan gugatan class action melawan kebijakan Trump ini dan mendapat dukungan anggota parlemen Jim Costa dari California.
Maryam Hani (6) - Irak
|
Maryam Hani (CNN IReport/Lequaa Jasim)
|
Maryam Hani didiagnosis leukemia pada Oktober tahun lalu oleh dokter di kamp pengungsi Mesir. Keluarganya kabur dari Provinsi Anbar, Irak pada Desember 2014 untuk menyelamatkan diri dari Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).
Ayah Maryam menjual bisnis perkayuannya dan menggunakan uang yang didapat untuk membiayai perjalanan berbahaya ke Mesir. Karena mereka pengungsi, seluruh biaya perawatan medis Maryam diambil dari kantong mereka sendiri.
Sebagai pengungsi, ayah dan ibu Maryam tidak bisa bekerja, jadi mereka bergantung pada bantuan kakek dan nenek Maryam yang telah menjadi 'permanent resident' di Boise, Idaho, AS sejak tahun 2014.
Keluarga ini berniat membawa Maryam untuk berobat ke AS. Sang nenek, Holda Sadeq, ingin menjemput cucunya langsung ke Mesir untuk membantu pengajuan visa medis bagi Maryam agar dia bisa berobat ke AS. Namun karena masih memegang paspor Irak, Sadeq khawatir tak bisa kembali ke AS.
Untuk sekarang, keluarga Maryam hanya bisa menunggu dan melanjutkan perawatan medis Maryam seadanya. "Dia (Maryam) kelelahan dan masih ada di rumah sakit dan baru menjalani kemoterapi pekan lalu, dan hari ini mereka memberinya vitamin," tutur Sadeq kepada CNN.
Maryam masih harus menjalani kemoterapi besar beberapa waktu lagi. Para dokter di kamp pengungsi Mesir berjanji akan melakukan apapun demi memastikan Maryam kuat untuk melakukan perjalanan ke AS, jika dia mendapat izin masuk.
Dilbireen Muhsin (2) - Irak
|
Dilbireen Muhsin (CNN)
|
Luka bakar menghancurkan wajah si kecil Dilbireen Muhsin. Keluarga Dilbireen terpaksa kabur dari rumah mereka di Irak karena ISIS menyerang desa mereka tahun 2014. Dilbireen dan keluarganya bagian dari komunitas Yazidis, minoritas yang tinggal di sekitar Gunung Sinjar, Irak.
Keluarga Dilbireen tinggal di kamp pengungsian saat dia lahir pada 4 Januari 2015. Setahun kemudian, saat ulang tahun pertamanya, kebakaran akibat kerusakan pemanas gas di kamp pengungsian membakar tempat tidur Dilbireen. Ibundanya sedang memanggang roti di luar saat kebakaran terjadi.
Penyelamatan dilakukan segera, namun wajah dan kaki Dilbireen terbakar parah. Selimut menyelamatkan bagian tubuhnya dari api.
Tahun lalu, Dilbireen tiba di AS untuk menjalani perawatan medis untuk luka bakar di wajahnya. Saat ini, dia tinggal dengan sebuah keluarga yang bersedia merawatnya di Lansing, Michigan. Namun orangtua dan adik laki-lakinya masih ada di negara asal mereka, Irak.
Keluarganya berupaya untuk pindah ke AS demi mendampingi Dilbireen yang masih menjalani perawatan medis, namun visa mereka dicabut pada awal Januari. Kebijakan imigrasi Trump semakin mempersulit mereka untuk menyusul Dilbireen ke AS. Mereka juga khawatir Dilbireen akan dipulangkan ke Irak sebelum menjalani operasi tambahan untuk memperbaiki wajahnya.
Fatemeh (4 bulan) - Iran
|
Fatemeh (CNN/Samad Teghizadeh)
|
Kebijakan imigrasi Trump membuat rencana sebuah keluarga asal Iran untuk membawa putri mereka yang masih bayi untuk menjalani operasi di AS, tertunda.
Pada Januari ini, Fatemeh didiagnosis mengalami situasi 'abnormal struktural' dan memiliki dua lubang di jantungnya. Para dokter di Teheran, Iran memberitahu orang tua Fatemeh bahwa mereka tidak memiliki peralatan untuk merawatnya.
Keluarga Fatemeh berencana terbang ke Portland, Oregon, agar Fatemeh bisa menjalani perawatan medis yang dibutuhkannya. Keluarga ini terbang ke Dubai, Uni Emirat Arab. Tapi ketika mereka tiba di sana, mereka dipulangkan ke Iran dan diminta mengajukan visa lagi dalam 90 hari ke depan.
Banyak pejabat federal dan negara bagian AS berupaya membantu keluarga Fatemeh.
Jaksa khusus urusan imigrasi yang berbasis di Washington, AS, Amber Murray sedang mengupayakan mendapat 'putusan darurat' untuk Fatemeh agar dia bisa masuk ke AS. Jika upaya ini tak berhasil, Murray akan mengajukan permohonan dengan alasan kemanusiaan kepada pemerintahan Trump.
Mushkaad Abdi (4) - Somalia
|
Mushkaad Abdi (CNN/WCCO)
|
Mushkaad, anak perempuan asal Somalia yang kini berusia 4 tahun, tinggal terpisah dari ibunda dan kakak-kakaknya yang tinggal di AS. Sang ibu, Samira Dahir, tidak bertemu dengan Mushkaad sejak dia berusia beberapa bulan.
Dahir baru mendapat visa untuk pindah ke AS bagi dirinya dan kedua putrinya yang lain saat Mushkaad lahir. Pengajuan visa harus diulang jika Dahir tetap tinggal di Somalia. Dia memutuskan menitipkan Mushkaad pada kerabatnya di Somalia dan membawa dua putrinya yang lain ke AS.
Pada Selasa (31/1), Mushkaad baru saja mendapat visa AS dan dijadwalkan terbang ke Minnesota. Namun karena Somalia masuk dalam daftar tujuh negara yang dilarang masuk AS, Mushkaad dilarang naik pesawat.
Kasus Mushkaad ini terdengar oleh telinga dua Senator AS asal Minnesota, Al Franken dan Amy Klobuchar serta Menteri Keamanan Dalam Negeri AS yang baru, John Kelly. Mereka mengajukan permohonan khusus agar Mushkaad dimukimkan di AS sebagai pengungsi.
Pada Kamis (2/2) waktu setempat, Mushkaad akhirnya tiba di AS dan berhasil bertemu ibu serta kedua kakaknya.
"Ini sungguh mengharukan bagi Samira dan kedua putrinya, yang menunggu untuk bertemu kembali dengan Mushkaad sejak dia bayi. Saya sangat senang bahwa setelah sekian lama berpisah, keluarga Minnesota ini sekarang bisa bersama," ucap Al Franken yang merupakan Senator Junir Minnesota.
Dalam konferensi pers, Dahir berterima kasih kepada semua orang yang membantunya bertemu dengan putrinya. "Saya sangat senang karena hari ini, putri saya Mushkaad telah pulang. Banyak orang membantu untuk membawa anak saya," ucapnya sambil berlinangan air mata.











































