Komentari Serangan di Museum Louvre, Trump: Get Smart US!

Komentari Serangan di Museum Louvre, Trump: Get Smart US!

Novi Christiastuti - detikNews
Sabtu, 04 Feb 2017 13:38 WIB
Komentari Serangan di Museum Louvre, Trump: Get Smart US!
Donald Trump di Ruang Oval Gedung Putih (REUTERS/Jonathan Ernst)
Washington DC - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyebut pelaku serangan di Museum Louvre, Prancis sebagai teroris Islam radikal. Merujuk serangan di Prancis itu, Trump juga menyerukan agar rakyat AS harus lebih cerdas.

"Seorang teroris Islam radikal baru menyerang Museum Louvre di Paris. Turis-turis terjebak. Prancis tegang lagi. Get smart US," kicau Trump via akun Twitter pribadinya @realDonaldTrump, seperti dilansir AFP, Sabtu (4/2/2017).

Pernyataan Trump itu juga menyerukan kepada rakyat AS untuk lebih cerdas menghadapi ancaman teroris. Sedangkan sebutan 'teroris Islam radikal' merupakan istilah yang biasa digunakan Trump untuk menyebut para pelaku serangan teror.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Pelaku Serangan di Museum Louvre Sempat Nge-tweet Soal ISIS

Dalam serangan yang terjadi di luar Museum Louvre, Paris pada Jumat (3/2) pagi waktu setempat, pelaku yang bersenjatakan golok menyerang satu tentara Prancis hingga luka ringan. Pelaku berhasil dilumpuhkan setelah ditembak satu tentara lainnya, sebanyak lima kali.

Pelaku membawa dua tas di punggung, yang setelah diperiksa tidak berisi bahan peledak. Namun otoritas Prancis meyakini serangan ini bermotif terorisme. Insiden ini diselidiki oleh tim kepolisian antiterorisme Prancis. Pelaku yang diyakini berasal dari Mesir ini pernah nge-tweet soal Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) sebelum beraksi.

Serangan itu terjadi saat pemerintahan Trump memberlakukan kebijakan imigrasi yang kontroversial di AS. Pengungsi dan warga tujuh negara mayoritas muslim dilarang masuk AS untuk batas waktu tertentu. Seorang pejabat senior pemerintahan Trump menjelaskan bahwa kebijakan itu perlu demi mencegah situasi seperti di Prancis dan negara Eropa lainnya, yang marak dilanda serangan teror.

"Kenyataannya, situasi yang ada di sebagian Prancis, sebagian Jerman, di Belgia dan sebagainya, bukan situasi yang kami inginkan terjadi di dalam AS," sebut pejabat senior itu, sembari memperingatkan AS juga menghadapi ancaman teror domestik yang permanen.

Baca juga: Polisi Telusuri Apartemen Pelaku Penyerang Tentara di Museum Louvre

"Kami tidak ingin situasi, 20-30 tahun dari sekarang, yang rutin dilanda serangan teror domestik, toko-toko ditutup atau bandara dipasangi peledak, atau orang-orang dilindas di jalanan oleh mobil dan kendaraan lainnya dan hal-hal semacam itu," imbuhnya. (nvc/try)


Berita Terkait