Brjánsdóttir dikenal sebagai seorang gadis yang ramah, penyayang, pemilik rambut berwarna merah yang humoris. Dia sempat menghilang delapan hari sebelum ditemukan tewas.
Berita hilangnya Brjánsdóttir dilaporkan orangtuanya ke Polisi Metropolitan pada Sabtu (14/1) ketika dia diberitahukan tidak masuk ke kantor. Pada malam harinya dia sempat berkumpul bresama teman-temannya di sebuah bar. Orang tua dan teman-teman Brjánsdóttir cemas karena tidak biasanya dia tidak muncul di rumah atau di kantor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rumah bagi 300 ribu orang, pembunuhan Brjánsdóttir telah menarik perhatian Islandia, sebuah negara dengan tingkat pembunuhan terendah di dunia.
Ribuan pelayat berkumpul di ibu kota akhir pekan lalu mencoba mengenang rute perjalanan Brjánsdóttir. Rute yang pernah dilaluinya sama dengan aksi protes SlutWalk yang digelar tahunan untuk gerakan perempuan.
Hilangnya perempuan yang memakai Doc Martens dan lipstik hitam itu melanggar hak asasi wanita yang diperjuangkan di Islandia. Peristiwa itu menggemparkan para wanita yang biasanya merasa aman berjalan sendirian di malam hari.
Duka Seorang Ibu
Protes sang ibunya Sigurlaug Hreinsdottir yang merasa peristiwa buruk menimpa putrinya. Ketika Brjánsdóttir tidak hadir di kantornya pada Sabtu (15/1), teleponnya juga mati, Hreinsdottir tahu ada sesuatu yang salah.
Putrinya tidak biasanya sulit dihubungi. Keluarganya pun segera melaporkan berita kehilangan ke polisi. Berita dengan cepat menyebat dan foto gadis itu tayang di media.
Pencarian Brjánsdóttir meluas setelah ibunya muncul dalam konferensi pers di kantor pusat Polisi Metropolitan. Di setiap toko, di dalam bus dan di tiap tempat kerja orang-orang mulai berspekulasi dan menerka-nerka apa yang terjadi pada Brjánsdóttir.
Polisi telah melacak teleponnya di Hafnarfjordur, sebuah dermaga kota di Reykjavik, setengah jam setelah dia menghilang. Mereka merilis rekaman CCTV yang menunjukkan mobil Kia Rio merah yang tidak dikenal berada di tempat terakhir Brjánsdóttir terlihat. Polisi menanyai pengemudi tersebut yang diyakini sebagai saksi kunci.
"Saya pikir dia mungkin pergi dengan mobil bersama seseorang yang tidak dikenalnya," kata ibu Brjánsdóttir yang yakin anaknya tidak mungkin melarikan diri.
"Seseorang tahu di mana dia berada dan saya pikir seseorang menyekapnya. Hal ini sangat tidak biasa untuknya bersembunyi, dia tidak depresi dan terlibat narkoba," ungkap ibunya.
Jalan terang
Sepatu hitam Doc Martens Brjánsdóttir menjadi pertunjuk pertama. Sepatunya itu ditemukan di tepi dermaga di Hafnarfjordur.
Segera setelah mobil merah sewaan itu terlacak mengarah ke dua orang pelaut Greenland Polar Nanoq. Kapal itu telah bersandar di dermaga Hafnarfjordur beberapa meter dari sepatu Brjánsdóttir ditemukan. Sebuah rekaman video juga menunjukkan mobil yang sama parkir di lokasi tersebut pukul 06.00 waktu setempat pagi hari saat Brjánsdóttir menghilang.
Polisi mengungkapkan bahwa tubuh Brjánsdóttir terlihat dari helikopter di pantai hitam berbatu di semenanjung Reykjanes, sekitar satu jam perjalanan dari ibu kota. Polisi Reykjavik menangkap dua pelaut Greenland tersebut setelah menemukan darah Brjánsdóttir tercecer di mobil sewaan mereka, mobil sedan merah Kio Rio.
Laki-laki tersebut menjadi tersangka utama kematian Brjánsdóttir, meyakini temuan polisi bahwa Brjánsdóttir dibunuh secara brutal dan tubuhnya dibuang di lautan. Salah satu pria itu dilepaskan pada Kamis tapi masih diduga terlibat dalam pembunuhan sementara laki-laki lainnya masih didalam tahanan.
Menghadapi Prasangka
Ketika menjadi jelas bahwa tersangka dalam kasus tersebut berasal dari Greenland, Islandia dipaksa untuk menghadapi prasangka mereka melawan penduduk asli.
"Ada kecenderungan di antara warga Islandia untuk memandang rendah warga Greenland," kata kepala departemen Kementerian Municipalities di Greenland, Embla Kristjánsdóttir yang merupakan seorang warga Islandia.
"Warga kota Nuuk, Greenland, menunjukkan bagaimana sedihnya mereka mendengar peristiwa tragis tersebut. Hal itu menggetarkan saat melihat bagaimana warga Islandia saling terikat. Derita mereka juga derita kami," sambungnya.
Merespon pembunuhan tersebut, beberapa ratus warga Greenland menantang -17 derajat Celcius berkumpul di konsulat Nuuk untuk mengenang Brjánsdóttir.
Mengenang Brjánsdóttir
Upacara pemakaman untuk Brjánsdóttir akan dilangsungkan di Reykjavik pada Jumat sore. Setelah diliput media, pihak keluarga meminta pemakaman Brjánsdóttir untuk digelar secara privat sehingga mereka bisa mengenag Brjánsdóttir dalam ketenangan dan damai.
Teman, saudara dan warga lainnya yang tersentuh pada kasus Brjánsdóttir telah mulai mengenangnya dengan postingan di sosial media, dengan banyak kata-kata yang berisi : "Ég er Birna" (Saya adalah Birna). Merujuk pada simbol perasaan kehilangan warga Islandia.
Matthildur Soffía Jónsdóttir membagikan serangkaian foto dan videonya bersama Brjánsdóttir di akun Facebook miliknya untuk mengenang kepergian sahabatnya itu.
"Saya tidak pernah berpikir akan kehilangan sahabat saya, terutama dengan cara yang seperti ini. Saya marah, sedih dan marah," kata Jónsdóttir yakin tidak ada seorangpun yang layak diperlakukan seperti ini. (ams/nkn)










































