Pemerintah AS Revisi Sanksi untuk Badan Intelijen Rusia

Pemerintah AS Revisi Sanksi untuk Badan Intelijen Rusia

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 03 Feb 2017 12:19 WIB
Pemerintah AS Revisi Sanksi untuk Badan Intelijen Rusia
Ilustrasi (Royalty-Free/Corbis)
Washington DC - Pemerintah Amerika Serikat (AS) melakukan penyesuaian pada sanksi yang dijatuhkan untuk badan intelijen Rusia, FSB, terkait intervensi pilpres. Penyesuaian ini dianggap meringankan sanksi tegas yang dijatuhkan pemerintahan Presiden Barack Obama.

Dalam pernyataannya, seperti dilansir Reuters, Jumat (3/2/2017), Departemen Keuangan (Depkeu) AS menyatakan penyesuaian ini mengizinkan perusahaan-perusahaan AS untuk melakukan transaksi terbatas dengan FSB, yang diperlukan untuk mendapat izin mengimpor produk teknologi ke Rusia.

Kepada wartawan di Gedung Putih, Presiden Donald Trump langsung menanggapi pertanyaan wartawan tentang apakah dirinya meringankan sanksi untuk Rusia. "Saya tidak meringankan apapun," jawab Trump, yang beberapa kali pernah memuji Presiden Rusia Vladimir Putin.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Putin Siap Bertemu Trump, Tapi Butuh Persiapan Berbulan-bulan

Dalam conference call dengan wartawan AS, pejabat senior Depkeu AS menjelaskan bahwa penyesuaian ini merupakan 'perbaikan yang sangat teknis'. Menurutnya, penyesuaian ini untuk menanggapi 'keluhan langsung' dari perusahaan-perusahaan yang tidak bisa mengimpor produk teknologi tanpa izin dari FSB.

Ditambahkan pejabat senior AS ini, penyesuaian telah dirumuskan sejak beberapa minggu sebelum Trump menjabat pada 20 Januari lalu.

Selain fungsi intelijen, FSB juga mengatur aktivitas impor software dan hardware yang mengandung kriptografi (teknik kode rahasia). Setiap perusahaan membutuhkan izin FSB untuk mengimpor produk komersial seperti telepon genggam dan printer yang mengandung enkripsi (kode atau sandi).

Baca juga: Obama 'Serang' Rusia yang Dianggap Intervensi Pilpres AS

Menanggapi langkah ini, para pakar sanksi dan mantan pejabat era Presiden Obama menekankan penyesuaian ini belum mengindikasikan perubahan dalam kebijakan AS terhadap Rusia. Pakar sanksi dan mantan pejabat senior Departemen Luar Negeri AS, Peter Harrell, menyebut Depkeu AS kemungkinan tidak mempertimbangkan isu ini saat menjatuhkan sanksi pada Desember 2016 lalu.

"Saya pikir ketika mereka menjatuhkan sanksi pada FSB, mereka tidak berniat memperumit penjualan telepon genggam dan tablet," sebutnya.

AS menuding FSB dan satu lagi badan intelijen Rusia terlibat dalam peretasan dokumen Partai Demokrat semasa kampanye pilpres tahun lalu. Peretasan bertujuan mendiskreditkan capres Demokrat Hillary Clinton dan membantu Trump yang menjadi capres Partai Republik. AS meyakini, operasi peretasan itu disetujui oleh pejabat tinggi dalam jajaran pemerintahan Rusia.

Baca juga: Putin Ragu Trump Bertemu dan Menonton PSK di Moskow

Pada Desember 2016 lalu, Obama mengusir 35 diplomat Rusia yang diyakini juga menjadi agen intelijen di AS. Dua badan intelijen Rusia, empat pejabat intelijen Rusia dan tiga perusahaan yang mendukung operasi cyber Rusia di AS itu juga dijatuhi sanksi tegas. (nvc/ita)


Berita Terkait