Tragis! Tak Bisa Baca, Bocah SD di Kenya Tewas Dipukuli Gurunya

Nathania Riris Michico - detikNews
Jumat, 03 Feb 2017 12:04 WIB
Foto Joy Wangari (dok. Daily Mail)
Kenya -

Tidak semua guru bisa menjalankan tugas sebagai pembimbing bagi para muridnya dengan sempurna. Maksud hati ingin mendidik, kadang hal-hal yang dilakukan seorang guru justru bisa berdampak buruk bagi siswa yang diajar.

Hal ini terbukti dari kisah seorang bocah berusia 10 tahun yang dipukuli oleh gurunya hingga tewas karena tidak bisa membaca. Bocah malang tersebut bernama Joy Wangari.

Joy bersekolah di Sekolah Dasar (SD) Mukadamia, Nairobi, Kenya. Hal ini diawali ketika sang guru memukul kepala Joy saat mengetahui bocah itu tidak bisa membaca.

Sadisnya, guru tersebut juga memerintahkan teman sebangku untuk ikut memukul Joy saat bocah malang tersebut tidak bisa membaca.

"Teman sebangkunya diperintahkan untuk mengajarinya cara membaca dan memukulinya jika dia tidak bisa. Guru pun mulai memukul punggungnya ketika bocah itu mengatakan jika Joy tidak bisa membaca," kata orang tua Joy, Mary Wanjiku, seperti dilansir Daily Mail, Jumat (3/2/2017).

Kemudian, Joy mengeluh kepada Kepala Sekolah dan diizinkan untuk pulang lebih awal. Ternyata Joy hanya tinggal bersama neneknya yang berusia 86 tahun.

Karena melihat kondisi Joy yang lemah, tetangga rumahnya, Ann Wairimu segera menemuinya. Ternyata Joy sempat mengeluh sakit di perut dan punggung.

"Saya mengunjungi anak itu di rumah dan ia tampak sangat lemah dan mengeluh sakit perut dan punggung. Dia bilang telah dipukuli oleh guru dan teman-teman sekelasnya," ujar Ann Wairimu.

Empat hari setelah insiden pemukulan itu, Joy dilarikan ke rumah sakit karena kondisi tubuhnya memburuk. Sayangnya, setelah menjalani perawatan, nyawa Joy tidak tertolong dan akhirnya meninggal dunia di rumah sakit.

Direktur Pendidikan Kamemba Kamande menyatakan penyelidikan atas kasus pemukulan ini masih berlangsung. Namun, pihaknya masih belum akan mengambil tindakan tegas terhadap guru terkait.

"Kami belum mengambil tindakan disipliner terhadap siapa pun. Tapi, jika kita menemukan salah satu guru bersalah, kami akan mengambil tindakan," ujar Kamande.

Menanggapi hal itu, salah seorang orang tua murid, Simon Mureithi mengklaim bahwa ini bukanlah kasus pertama seorang guru melakukan tindak kekerasan kepada muridnya. Dia berharap guru di sekolah itu diganti dengan yang lebih baik.

"Aku memindahkan anakku dari sekolah setelah ia dipukuli cukup parah oleh guru dan ada banyak orang lain yang memiliki keluhan sama. Kami menuntut agar semua guru harus diganti dengan yang lebih manusiawi," kata Simon.

Saat ini, kepolisian setempat tengah menyelidiki kasus tersebut untuk mencari tersangka kekerasan pada seorang bocah.

(nth/nvc)