"Sekarang bukan waktunya untuk memisahkan orang-orang," kata Rouhani dalam pidatonya yang disiarkan langsung di televisi pemerintah Iran seperti dilansir kantor berita Reuters, Rabu (1/2/2017).
Pada Jumat, 27 Januari waktu setempat, Trump menandatangani perintah eksekutif mengenai penghentian sementara masuknya warga dari Iran, Irak, Libya, Somalia, Sudan, Suriah dan Yaman ke AS selama setidaknya 90 hari. Trump juga memerintahkan penangguhan program penerimaan pengungsi selama empat bulan, dan penangguhan penerimaan pengungsi dari Suriah untuk waktu yang tidak ditentukan.
"Dia (Trump) baru dalam politik. Dia tadinya di dunia yang berbeda. Ini benar-benar lingkungan yang baru bagi dia. Dia akan butuh waktu yang lama dan Amerika akan membayar mahal, sampai dia belajar tentang apa yang terjadi di dunia," kata Rouhani.
Kebijakan Trump dalam masalah imigrasi dan pengungsi ini mendapat kecaman luas di luar negeri maupun dalam negeri sendiri.
Ketika mengumumkan perintah eksekutif itu, Trump menyinggung tentang serangan teroris 11 September 2001. Tetapi tak seorang pun dari 19 pelaku pembajakan pesawat untuk menyerang Twin Towers di New York berasal dari negara-negara yang warganya dilarang masuk ke AS. Mereka adalah warga negara Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Mesir dan Lebanon.
Sejumlah pihak menggarisbawahi bahwa daftar negara yang dilarang tidak termasuk negara-negara di mana Presiden Trump mempunyai kepentingan bisnis -- seperti Arab Saudi. Namun anggapan itu ditepis oleh pemerintahan Trump yang menegaskan hal itu tak ada hubungannya.
(ita/ita)











































