Trump yang semasa kampanye kepresidenan bersumpah akan memusnahkan ISIS, dikabarkan akan memerintahkan Menteri Pertahanan (Menhan) AS James Mattis untuk lebih agresif menyerang posisi-posisi ISIS, dengan tujuan mengalahkan kelompok itu lebih cepat.
Menurut para pengamat, hal itu bisa berarti akan lebih banyak pasukan dan peralatan militer AS yang dikerahkan ke Irak dan Suriah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini iblis. Ini level iblis yang belum pernah kita lihat," imbuh Trump.
Media The Wall Street Journal melaporkan, Trump akan memberikan waktu 30 hari hari bagi Departemen Pertahanan untuk menyampaikan opsi-opsi guna melancarkan perang yang lebih keras terhadap ISIS.
AS saat ini menempatkan sekitar 5 ribu tentara di Irak dan 500 tentara di Suriah sebagai "penasihat". Selain itu, AS juga mengerahkan pesawat dan artileri untuk membantu dalam perang melawan ISIS di Suriah dan Irak.
Menurut media-media AS, eskalasi peran AS bisa melibatkan lebih banyak helikopter dan persenjataan AS yang dikerahkan dalam serangan-serangan terhadap posisi-posisi ISIS, bersama pasukan Irak, Turki dan Kurdi.
"Trump bisa memilih untuk mengerahkan pasukan darat AS dengan jumlah lebih besar," tutur pengamat yang juga pensiunan jenderal, David Barno kepada Radio Publik Nasional.
"Itu semua memerlukan penggunaan baru kekuatan militer dan itu membuka prospek keterlibatan yang lebih dalam dengan jumlah korban yang lebih besar," imbuhnya.
Semasa kampanye kepresidenan, Trump berjanji bahwa dirinya memiliki rencana rahasia untuk mengalahkan ISIS dengan cepat. Awal pekan ini, juru bicara Trump juga mengatakan bahwa Trump terbuka untuk melakukan operasi gabungan dengan Rusia dalam memerangi ISIS di Suriah.
Pekan lalu, Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Joe Dunford menyatakan akan menyampaikan opsi-opsi kepada Menhan James Mattis untuk mempercepat kampanye melawan ISIS. (ita/ita)











































