"Hati saya hancur karena hari ini Presiden Trump menutup pintu pada anak-anak, kaum ibu dan ayah yang lari dari kekerasan dan perang," ujar gadis berumur 19 tahun itu seperti dilansir kantor berita AFP, Sabtu (28/1/2017).
"Di masa ketidakpastian dan keresahan di seluruh dunia ini, saya meminta Presiden Trump untuk tidak berpaling dari anak-anak dan keluarga paling tidak berdaya di dunia," imbuh Malala dalam sebuah statemen yang dikeluarkan beberapa saat setelah Trump menandatangani keputusan mengenai penghentian sementara program pengungsi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Malala pernah ditembak di bagian kepalanya oleh militan Taliban pada tahun 2012 setelah secara terbuka mengkampanyekan pendidikan bagi anak-anak perempuan di Pakistan. Malala merupakan peraih Nobel Perdamaian termuda sepanjang sejarah. Aktivis muda itu mendapatkan hadiah bergengsi tersebut pada tahun 2014 bersama aktivis pendidikan asal India, Kailash Satyarthi.
Pada Jumat (27/1) waktu setempat, Trump menandatangani keputusan untuk menghentikan sementara program pengungsi ke AS dan melarang para pengunjung dari Suriah dan enam negara mayoritas muslim lainnya. Pelarangan sementara ini dimaksudkan untuk membantu melindungi warga Amerika dari serangan-serangan teroris.
"Saya sedang melakukan langkah-langkah pemeriksaan baru untuk menahan para teroris Islam radikal menjauh dari AS. Saya tak menginginkan mereka di sini," ujar Trump seperti dilansir kantor berita Reuters, Sabtu (28/1/2017).
"Kami hanya ingin memasukkan mereka yang akan mendukung negara kita dan yang sangat mencintai rakyat kita," imbuh Trump.
Dengan perintah ini, maka program pengungsi Suriah dihentikan selama empat bulan sampai pemberitahuan lebih lanjut. Pada akhirnya prioritas akan diberikan pada kelompok-kelompok minoritas agama yang lari dari penindasan. Langkah ini membatasi masuknya pengungsi selama setidaknya 90 hari dari Suriah dan negara-negara mayoritas muslim lainnya.
(ita/ita)











































