Seperti dilansir AFP, Selasa (24/1/2017), hasil penyelidikan yang dipimpin oleh Belgia meyakini bahwa sebuah loket check-in maskapai Amerika yang ada di Bandara Zaventem, Brussels, menjadi salah satu target serangan pada 22 Maret 2016 lalu.
Dituturkan sejumlah sumber yang memahami penyelidikan itu, pelaku juga menargetkan penumpang yang hendak terbang ke Israel. Salah satu pengebom bunuh diri terekam CCTV mengikuti seorang warga Yahudi dengan penampilan Hasidic, yakni berjenggot panjang dan memakai topi khas, sesaat sebelum salah satu ledakan terjadi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: 40 Hari Usai Teror Bom, Bandara Brussels Dibuka Kembali
Salah satu sumber yang memahami penyelidikan ini menuturkan kepada AFP, salah satu pengebom bunuh diri di bandara sengaja 'menyerang loket check-in Delta Airlines' di Bandara Zaventem. "Kami tahu mereka menargetkan warga Amerika. Jelas mereka memiliki target spesifik," sebutnya.
Saat ditanya apakah target-target spesifik ini termasuk loket check-in untuk penerbangan ke Israel, sumber ini menjawab: "Kami juga tahu mereka terobsesi dengan warga Israel juga."
Beberapa sumber lain yang memahami penyelidikan menambahkan, rekaman CCTV yang tidak pernah dirilis ke publik menunjukkan salah satu pelaku berdiri di dekat 60 anak sekolah menengah, sebelum memutuskan mengikuti dua warga Yahudi berpenampilan Hasidic yang mudah dikenali.
Dari 32 korban tewas, empat di antaranya merupakan warga AS. Beberapa warga AS lainnya menjadi korban luka-luka, demikian juga dua warga Israel yang menjalani perawatan medis di Yerusalem usai ledakan bom itu. Sumber-sumber dari AS menyebut ada kemungkinan pelaku juga menargetkan warga Rusia, namun sumber Belgia menyebut kemungkinan itu masih harus diklarifikasi.
(nvc/ita)











































