Seperti dilansir Reuters, Kamis (12/1/2017), laporan yang dirilis militer AS pekan ini menyebut operasi yang merenggut nyawa sipil ini terjadi November tahun lalu, saat militer AS dan pasukan khusus Afghanistan membalas serangan Taliban di desa Boz, dekat Kunduz dan meminta bantuan via udara.
"Penyelidikan menetapkan, dengan sangat menyesal, bahwa 33 warga sipil tewas dan 27 warga sipil lainnya luka-luka," demikian pernyataan dari pasukan AS di Afghanistan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Laporan itu menyebut dua tentara AS dan tiga tentara Afghanistan juga tewas dalam operasi yang sama. Sedangkan 26 anggota Taliban, termasuk dua pemimpinnya, juga disebut AS tewas dalam operasi itu.
"Penyelidikan menyimpulkan bahwa pasukan militer AS bertindak untuk mempertahankan diri, sesuai dengan Undang-undang Konflik Bersenjata, dan sejalan dengan seluruh aturan dan kebijakan yang berlaku," imbuh militer AS di Afghanistan dalam pernyataannya.
"Terlepas dari situasi apapun, saya sangat menyesali hilangnya nyawa warga sipil," ucap Jenderal John Nicholson yang merupakan Komandan Pasukan AS di Afghanistan.
Nicholson menegaskan, seluruh langkah yang mungkin dilakukan, akan diambil demi melindungi warga sipil Afghanistan. Laporan militer AS juga menyebut, bantuan via udara dikerahkan dengan kekuatan minimum untuk menetralkan ancaman Taliban di gedung sipil.
Laporan militer AS itu juga menyatakan, tidak ada warga sipil yang terlihat maupun teridentifikasi di sekitar target serangan. Warga sipil yang tewas maupun luka-luka diduga ada di dalam gedung yang digunakan sebagai pertahanan Taliban. Beberapa korban tewas diduga terkena ledakan amunisi milik Taliban sendiri.
(nvc/nwk)










































