Pantau Rudal Antar Benua Korut, AS Kerahkan Radar Canggih

Pantau Rudal Antar Benua Korut, AS Kerahkan Radar Canggih

Novi Christiastuti - detikNews
Kamis, 12 Jan 2017 18:07 WIB
Pantau Rudal Antar Benua Korut, AS Kerahkan Radar Canggih
Radar canggih SBX milik AS (MO2 Daniel Barker/Navy Media Content Service/US Navy)
Washington DC - Otoritas Amerika Serikat (AS) mengerahkan sebuah radar militer canggih untuk memantau peluncuran rudal balistik antar benua milik Korea Utara (Korut). Radar militer ini mampu melacak pergerakan rudal balistik.

Awal bulan ini, pemimpin Korut Kim Jong Un menyatakan negaranya yang memiliki kemampuan nuklir, semakin dekat dengan jadwal uji coba peluncuran rudal balistik antar benua (ICBM). Korut juga mengklaim rudal balistik itu mampu mencapai wilayah AS.

Dituturkan pejabat pertahanan AS yang enggan disebut namanya, seperti dilansir Reuters, Kamis (12/1/2017), radar canggih bernama Sea-based X-band (SBX) ini telah bergerak meninggalkan pangkalannya di Hawaii sejak Senin (9/1) waktu setempat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Korut Ancam Luncurkan Rudal Balistik yang Bisa Menjangkau AS

Diperkirakan radar ini akan tiba di lokasi tujuan, tepatnya perairan sekitar 3.218 kilometer sebelah barat laut Hawaii pada akhir Januari nanti. Langkah ini menjadi respons militer pertama AS, setelah Korut mengklaim mampu meluncurkan rudal balistik antar benua.

Radar ini memiliki kemampuan melacak rudal jarak jauh, juga ICBM dan membedakan antara rudal mematikan dengan rudal yang bukan ancaman.

"Pengerahan SBX saat ini tidak didasarkan pada ancaman kredibel apapun, namun demikian, kami tidak bisa membahas misi khusus ini secara spesifik karena masih berlangsung," terang juru bicara Pentagon, Komandan Gary Ross.

Baca juga: Trump: Tak Akan Ada Rudal Nuklir Korut yang Mampu Jangkau AS

Pada Selasa (10/1) waktu setempat, Menteri Pertahanan AS Ash Carter menyatakan militer AS mungkin akan memonitor uji coba rudal balistik antar benua Korut. Carter juga menyebut AS lebih memilih mengumpulkan informasi intelijen, daripada menghancurkan rudal itu sepanjang tidak berbahaya.

"Jika rudal itu mengancam, maka akan dicegat. Jika tidak mengancam, kita tidak perlu melakukan demikian," ucap Carter.

"Karena itu mungkin lebih menguntungkan kita, pertama, menyimpan alat pencegat kita, dan kedua, mengumpulkan informasi intelijen dari peluncuran, daripada melakukan itu (mencegat ICBM) jika tidak mengancam," imbuhnya.

(nvc/ita)


Berita Terkait