Dalam kolom opininya, media terbesar dan paling berpengaruh di China, Xinhua, menyinggung soal kebiasaan Trump melontarkan komentar pada berbagai isu, termasuk isu diplomasi penting, via akun Twitter miliknya. Trump juga pernah melontarkan pernyataan kontroversial soal China via Twitter.
"Obsesi pada 'diplomasi Twitter' sungguh tidak diinginkan," demikian bunyi artikel opini kantor berita Xinhua yang dirilis dalam situsnya, seperti dilansir CNN, Kamis (5/1/2017).
Baca juga: Trump Komentar Soal 'Satu China', Dubes: Kedaulatan Bukan Alat Tawar-menawar
"Disepakati bahwa diplomasi bukanlah permainan anak-anak -- bukan juga kesepakatan bisnis. Seperti dikatakan mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (Madeleine) Albright, Twitter tidak seharusnya menjadi alat bagi kebijakan luar negeri," imbuh artikel opini Xinhua yang dirilis pekan ini.
Albright menjabat Menlu AS periode 1997-2001 semasa Bill Clinton menjadi Presiden AS.
Dalam kicauannya via Twitter pada Senin (2/1) malam, Trump menyebut China tidak berbuat banyak untuk 'mengendalikan' Korea Utara yang merupakan negara tetangganya. Via Twitter beberapa waktu sebelumnya, Trump juga menuding China sengaja menjaga nilai mata uangnya rendah dan menuding China mengambil posisi militer di Laut China Selatan.
Baca juga: Trump: Tak Akan Ada Rudal Nuklir Korut yang Mampu Jangkau AS
Yang paling menghebohkan adalah saat Trump mengumumkan dirinya baru saja berbicara via telepon dengan Presiden Taiwan Tsai Ing-wen. Sikap itu jelas bertentangan dengan kebijakan luar negeri AS sejak lama yang hanya mengakui kebijakan 'satu China'.
Reaksi para pejabat China atas kicauan Trump itu tidak terlalu besar. Kementerian Luar Negeri China menyebut pihaknya 'sangat prihatin' setelah Trump mempertanyakan apakah AS harus menjaga posisinya dalam isu China dan Taiwan. Namun media China lainnya, The Global Times, melontarkan komentar keras dengan menyebut Trump 'dungu seperti anak-anak dalam urusan kebijakan luar negeri' dan tidak bertanggung jawab.
Dalam wawancara di acara televisi CBS '60 Minutes' pada November 2016, Trump menyatakan dirinya akan 'sangat menahan diri' dalam menggunakan Twitter setelah dilantik secara resmi menjadi Presiden AS. Namun Xinhua menyebut, kecil kemungkinan hal itu akan terjadi.
"Nge-tweet telah menjadi kebiasaan Trump," sebut artikel opini Xinhua.
(nvc/ita)











































