Tak Jadi Usir Diplomat AS, Putin Dipuji Donald Trump

Tak Jadi Usir Diplomat AS, Putin Dipuji Donald Trump

Novi Christiastuti - detikNews
Sabtu, 31 Des 2016 11:39 WIB
Tak Jadi Usir Diplomat AS, Putin Dipuji Donald Trump
Donald Trump (REUTERS/Andrew Kelly)
Florida - Presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Donald Trump memuji Presiden Rusia Vladimir Putin karena mampu menahan diri tidak membalas sikap keras AS. Putin memutuskan tidak akan balas mengusir diplomat-diplomat AS dari wilayahnya, setelah AS mengusir 35 diplomat Rusia.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov sebelumnya mengajukan permohonan kepada Putin untuk mengusir 31 staf diplomatik Kedutaan Besar AS di Moskow dan empat staf diplomatik Konsulat AS di Saint Petersburg, yang merupakan kota terbesar kedua di Rusia.

Dalam pernyataannya pada Jumat (30/12), Putin menegaskan Rusia tidak akan membalas pengusiran 35 diplomat Rusia yang dicurigai sebagai mata-mata oleh AS, setidaknya hingga Trump dilantik pada 20 Januari 2017.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Langkah yang hebat untuk menunda (oleh V Putin) - Saya selalu tahu dia sangat cerdas!" komentar Trump memuji Putin via Twitter, seperti dilansir Reuters, Sabtu (31/12/2016). Kicauan itu dilontarkan Trump dari Florida, lokasi liburannya bersama keluarga.

Baca juga: Putin Putuskan Tak Jadi Usir 35 Diplomat AS karena Donald Trump

Presiden AS Barack Obama, pada Kamis (29/12), memerintahkan pengusiran 35 diplomat Rusia, penutupan dua kamp Rusia di AS dan menjatuhkan sanksi untuk dua lembaga intelijen Rusia. Perintah itu terkait dugaan keterlibatan Rusia dalam aktivitas peretasan semasa pilpres AS.

"Kami tidak akan mengusir siapa pun," tegas Putin dalam pernyataannya, sembari menyatakan Rusia sebenarnya memiliki hak untuk membalas AS.

"Langkah selanjutnya menuju pemulihan hubungan Rusia-Amerika akan dibangun dengan dasar kebijakan yang akan diambil pemerintahan Presiden D Trump," imbuhnya.

Badan-badan intelijen AS menuding Rusia sebagai dalang di balik peretasan email Komisi Nasional Partai Demokrat dan capres Hillary Clinton sebelum pilpres digelar. Otoritas Rusia telah membantah tudingan AS itu. Para pejabat intelijen AS menyebut serangan dunia maya oleh Rusia bertujuan membantu Trump mengalahkan Hillary dalam pilpres AS.

Baca juga: Diduga Meretas Saat Pilpres, 35 Diplomat Rusia Diusir dari AS

Dalam tanggapannya, sejumlah pejabat pemerintahan Rusia menyebut sanksi dan pengusir diplomat itu sebagai aksi terakhir presiden 'bebek pincang'. Istilah 'bebek pincang' merujuk pada Presiden Obama yang masih menjabat namun kekuasaannya terbatas, karena sebentar lagi akan digantikan Trump.

Pejabat Rusia mendorong Trump untuk mencabut kembali keputusan Obama begitu dia menjabat. Secara terpisah, seorang pejabat senior AS menyebut bahwa Trump bisa mencabut perintah eksekutif Obama, namun jika hal itu dilakukan jelas merupakan tindakan yang tidak bijaksana.

(nvc/fdn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads