Abdelkader Amri, salah satu kakak Amri mengatakan bahwa Amri pergi meninggalkan Tunisia untuk mencari kehidupan yang lebih baik di Eropa. Dia pun menyerukan Amri untuk menyerahkan diri ke polisi.
"Jika dia mendengarkan saya, saya katakan padanya: Serahkan dirimu (ke polisi), sehingga keluarga bisa lebih tenang," ujar Abdelkader kepada para wartawan di sebuah desa miskin Oueslatia di Tunisia timur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Otoritas Jerman telah menawarkan imbalan uang 100 ribu euro untuk informasi yang mengarah ke penangkapan Amri. Pria berumur 24 tahun itu merupakan anak bungsu dari sembilan bersaudara. Kedua orangtuanya telah bercerai.
Kepada wartawan, Abdelkader mengisahkan bahwa Amri meninggalkan Tunisia lebih dari 5 tahun lalu. Dikatakan Abdelkader, adiknya itu kabur usai divonis penjara 4 tahun atas dakwaan perampokan.
"Anis pergi untuk lari dari penderitaan -- dia tak punya masa depan di Tunisia dan ingin memperbaiki kondisi keuangan keluarga. Kami hidup di bawah garis kemiskinan, sama seperti kebanyakan keluarga di Oueslatia," tutur Abdelkader.
Diceritakan Abdelkader, Amri pergi secara ilegal pada Maret 2011 via laut dan tiba di pulau Lampedusa, Italia. Dia sempat ditahan di pusat penahanan bersama para migran ilegal lainnya, sampai kemudian pada tahun 2015, Amri berhasil masuk ke Jerman.
Menurut Abdelkader, tak ada tanda-tanda adiknya telah diradikalisasi. "Saya yakin dia tak bisa melakukan ini, bukan karena itu dia berpindah. Semoga Tuhan menunjukkan kebenaran," ucap Abdelkader yang tak kuasa menahan tangis.
Sebanyak 12 orang tewas dan 24 orang lainnya masih menjalani perawatan di rumah sakit setempat terkait serangan truk maut di Berlin pada Senin (19/12) malam waktu setempat. Truk maut itu menabrak kerumunan orang dan kios-kios di pasar ornamen Natal yang ada di Berlin.
(ita/ita)










































