Ulama Gulen Kecam Keras Pembunuhan Dubes Rusia Untuk Turki

Ulama Gulen Kecam Keras Pembunuhan Dubes Rusia Untuk Turki

Rita Uli Hutapea - detikNews
Selasa, 20 Des 2016 11:17 WIB
Ulama Gulen Kecam Keras Pembunuhan Dubes Rusia Untuk Turki
Fethullah Gulen (Foto: REUTERS/Greg Savoy/Reuters TV)
Ankara, - Ulama terkenal Turki yang kini bermukim di Amerika Serikat, Fethullah Gulen mengecam pembunuhan Dubes Rusia untuk Turki sebagai aksi teror yang mengerikan. Gulen pun menyerukan pemerintah Turki untuk mengidentifikasi siapa saja yang telah membantu pelaku penembakan.

"Saya mengecam sekeras-kerasnya aksi teror mengerikan ini," ujar Gulen dalam statemen tertulis seperti dilansir kantor berita Reuters, Selasa (20/12/2016).

Menteri Dalam Negeri Turki Suleyman Soylu mengidentifikasi pelaku penembakan sebagai Mevlut Mert Altintas, yang telah bekerja sebagai polisi antihuru-hara selama 2,5 tahun. Pria berumur 22 tahun itu tewas dalam baku tembak dengan polisi usai penembakan. Dubes Karlov ditembak mati ketika tengah memberikan sambutan dalam pembukaan pameran foto bertajuk "Rusia dari Pandangan Orang-Orang Turki" di Gedung Cagdas Senat Merkezi, Ankara, pada Senin 19 Desember 2016 waktu setempat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pakar-pakar Turki dan internasional telah berulang kali menekankan penurunan keamanan dan upaya-upaya kontraterorisme dikarenakan penugasan pemerintah Turki terhadap ratusan polisi antiterorisme ke pos-pos yang tidak terkait, serta pemecatan dan pemenjaraan banyak polisi lainnya sejak tahun 2014," imbuh Gulen dalam statemennya.

Sebelumnya, seorang pejabat keamanan Turki mengatakan, penyelidikan saat ini fokus pada hubungan pelaku penembakan Dubes Rusia tersebut dengan jaringan pengikut Gulen, yang oleh pemerintah Turki disebut "Organisasi Teroris Gulen" atau "FETO".

Atas hal ini, perwakilan ulama Gulen, Alp Aslandogan membantah keterkaitan dengan pelaku penembakan. Disebutkannya, tudingan pejabat Turki tersebut hanya dimaksudkan untuk menutupi kelemahan keamanan.

"Gulen mengecam keras aksi keji ini," cetusnya kepada Reuters.

Pemerintahan Recep Tayyip Erdogan telah menyatakan bahwa gerakan Gulen telah menjalankan "sebuah negara paralel" dalam birokrasi sipil dan militer dan memiliki agenda tersendiri untuk menggulingkan pemerintahan. Gulen yang hidup di pengasingan di Pennsylvania, Amerika Serikat (AS), sejak 1999 membantah hal tersebut.

Gulen juga dituduh telah mendalangi upaya kudeta di Turki pada 15 Juli lalu. Sejak kudeta yang gagal itu, pemerintah Turki telah meminta AS untuk mengekstradisi ulama tersebut. Namun pemerintahan Barack Obama tidak mengabulkan permintaan tersebut.





(ita/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads