Menteri Dalam Negeri Turki Suleyman Soylu mengidentifikasi pelaku penembakan sebagai Mevlut Mert Altintas, yang telah bekerja sebagai polisi antihuru-hara selama 2,5 tahun. Pria berumur 22 tahun itu tewas dalam baku tembak dengan polisi usai penembakan Dubes Rusia.
Disampaikan seorang pejabat keamanan Turki seperti dilansir kantor berita Reuters, Selasa (20/12/2016), penyelidikan saat ini fokus pada hubungan pelaku dengan jaringan pengikut Gulen, yang oleh pemerintah Turki disebut "Organisasi Teroris Gulen" atau "FETO".
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Informasi yang diperoleh adalah orang-orang yang membantu dia masuk ke sekolah adalah dari FETO. Ada tanda-tanda sangat kuat bahwa orang yang melakukan serangan ini adalah dari FETO. Penyelidikan saat ini fokus secara total pada hal ini," ujar pejabat keamanan senior yang tak ingin disebut namanya itu.
Pejabat Turki tersebut juga menyampaikan adanya fakta bahwa pelaku telah mengambil libur pada tanggal 15-17 Juli lalu. Pemerintah Turki kini tengah menyelidiki dugaan keterkaitan waktu cutinya itu dengan kudeta yang gagal pada 15 Juli lalu.
Pemerintah Turki menyatakan bahwa Gulen yang telah bermukim di Amerika Serikat sejak tahun 1999, mendirikan "sebuah negara pararel" dalam kepolisian, militer, kehakiman dan pegawai pemerintah yang bertujuan untuk menggulingkan pemerintahan. Gulen telah berulang kali membantah tuduhan tersebut.
Dubes Karlov ditembak mati ketika tengah memberikan sambutan dalam pembukaan pameran foto bertajuk "Rusia dari Pandangan Orang-Orang Turki" di Gedung Cagdas Senat Merkezi, Ankara, pada Senin 19 Desember 2016 waktu setempat.
Menurut Kani Torun, seorang anggota parlemen Turki dari Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP), pelaku penembakan adalah polisi aktif yang sah. Kepada Al Jazeera, dia mengatakan bahwa pelaku tidak memiliki bukti menjalin kontak dengan kelompok-kelompok yang terlibat dalam pertempuran di Suriah.
"Menurut temuan awal, dia bukanlah orang yang telah berkunjung ke Suriah dan sangat tidak mungkin dia telah menjalin kontak dengan kelompok-kelompok di Suriah," ujar Torun.
"Dengan demikian, satu-satunya kemungkinan pelaku serangan ini adalah FETO. Mereka telah sangat aktif dalam kepolisian. Meski kelompok ini telah banyak disingkirkan dari kepolisian, kami yakin mereka bisa melakukan serangan bom bunuh diri seperti ini," imbuh Torun yang juga menjabat sebagai wakil ketua komite parlemen untuk urusan luar negeri. (ita/ita)











































