Dikira Bersenjata, Kakek 73 Tahun Tewas Ditembak Polisi Amerika

Dikira Bersenjata, Kakek 73 Tahun Tewas Ditembak Polisi Amerika

Novi Christiastuti - detikNews
Selasa, 13 Des 2016 18:59 WIB
Dikira Bersenjata, Kakek 73 Tahun Tewas Ditembak Polisi Amerika
Ilustrasi (REUTERS/Mike Segar)
California - Tragis! Seorang kakek berusia 73 tahun di California, Amerika Serikat (AS), tewas usai ditembak polisi. Penembakan ini dilakukan karena polisi mengira kakek itu sebagai pria bersenjata dan berbahaya.

Seperti dilansir media ternama AS, The Washington Post, Selasa (13/12/2016), kakek bernama Francisco Serna tewas ditembak polisi di wilayah Bakersfield, California pada Senin (12/12) dini hari, pukul 00.30 waktu setempat. Pihak keluarga menyebut Serna menderita demensia.

Insiden ini berawal saat polisi menerima laporan keberadaan seorang pria yang dicurigai membawa senjata di Silver Birch Avenue. Dituturkan Sersan Polisi Gary Carruesco dari Kepolisian Bakerfield kepada media lokal KBAK, sosok yang diyakini bersenjata itu, berdiri di tengah jalan saat polisi tiba di lokasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sosok itu adalah Serna dan tidak diketahui alasan Serna berdiri di tengah jalan. "Hingga pada satu momen, seorang polisi melepas beberapa tembakan dan mengenai orang itu," sebut Carruesco.

Usai Serna tertembak, polisi memeriksanya dan lokasi sekitar kejadian hingga Senin (12/12) siang, namun tidak ada satupun senjata api yang ditemukan.

Serna yang seorang pensiunan itu, memiliki lima anak dan tinggal di rumah tak jauh dari lokasi penembakan. Salah satu putra Serna, Rogelio, menuturkan kepada media lokal Los Angeles Times bahwa ayahnya sama sekali tidak punya senjata api.

"Ayah saya tidak memiliki senjata api. Dia seorang kakek pensiunan berusia 73 tahun, yang hanya menjalani kehidupannya. Dia seharusnya dikelilingi keluarganya saat usia lanjut, bukan dikelilingi peluru," ucap Rogelio yang menyebut ayahnya menentang kepemilikan senjata api.

Dituturkan Rogelio bahwa ayahnya menunjukkan tanda-tanda awal demensia dan sering mengalami delusi atau khayalan tidak rasional. Sang ayah, menurut Rogelio, juga memiliki gangguan tidur dan sering berjalan kaki sendirian saat malam hari untuk membuat dirinya kelelahan agar bisa tidur.

Bahkan disebutkan Rogelio, polisi setempat sebelumnya pernah mengunjungi rumah ayahnya sebanyak dua kali saat sang ayah ditemukan kebingungan di luar rumah. Belum ada keterangan otoritas setempat terkait hal ini.

Dilaporkan media lokal KBAK, polisi yang menembak mati Serna kini dalam cuti administratif sementara proses penyelidikan terus berlanjut.

(nvc/ita)


Berita Terkait